Kenapa Ta’at Sambil Duduk, Bermaksiat Sambil Berdiri?

15 Sep

Abu Muhammad Yahya bin Al Mubaarak Al Yaziidy -guru Al Ma’mun ketika masih kanak-kanak- berkata, “Pada suatu hari, saya shalat sambil duduk. Ketika Al Ma’mun membuat kesalahan, saya berdiri hendak memukulnya. Al Ma’mun pun berkata,”Wahai Syeikh! Kenapa Anda ta’at kepada Allah sambil duduk, namun bermaksiat kepadaNya sambil berdiri?!”
Maka aku pun memberitakan hal itu kepada Harun Ar Rasyid (ayah Al Ma’mun). Lalu aku diberi hadiah sebesar 5000 dirham.” (Hikaayaat wa Nawaadir Al Athfaal fit Turaats, hal 109, DR. ‘Abdurrazzaq Husain)

Kisah di atas menunjukkan kecerdasan seorang Al Ma’mun, padahal dia masih kecil. Terlepas dari itu, hendaknya kita mempertanyakan diri kita masing-masing dengan pertanyaan ‘Al Ma’mun kecil’ tersebut:
* Kenapa Anda taat kepada Allah sambil duduk, namun bermaksiat kepadaNya sambil berdiri?
* Kenapa Anda taat kepada Allah dengan bermalas-malasan, namun bermaksiat kepadaNya dengan segala daya upaya?
* Kenapa Anda taat kepada Allah secara terpaksa, namun bermaksiat kepadaNya dengan sepenuh hati?
* Kenapa Anda lemah dalam memperbanyak bekal akhirat, namun bersemangat dalam mengejar impian duniawi?

Afalaa ta’qiluun?

Sumber: Blog Sahabatku [Jazahallahu khaira]

Menjadi Penghafal Al Qur’an

25 May

Berikut ini adalah tips menarik cara mengahafal Al Qur’an yang insyaallah sangat bermanfaat. Selamat mencoba semoga Allah memudahkan.

Cara mudah menjadi penghapal quran? Muslim yang mukmin pasti ingin mengetahuinya. Tapi sesuatu yg sudah ditakdirkan mudah tuk dihapal, apakah masih memerlukan cara mudah lagi? “Dan sesungguhnya telah kami mudahkan al-Quran untuk peringatan, maka adakah yang mengambil pelajaran?”(al-Qomar: 17, 22, 32, 40) >>Selanjutnya<<

Mendahului Salam Saat Menerima Telepon

18 May

Oleh: Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah

Pertanyaan: Apa hukum mengucapkan salam kepada penelpon sementara kita tidak mengetahui apakah dia muslim atau kafir?

Jawab: Hukumnya sama halnya ketika engkau bertemu dengan seseorang dan jika engkau tahu dia orang kafir maka janganlah engkau memulai mengucapkan salam kepadanya. Adapun jika engkau tidak tahu (apakah dia muslim atau kafir)maka tidak ada larangan dalam hal ini.


ما حكم إلقاء السلام على الشخص المتحدث بالهاتف إذا كان لا يعرف هل هو مسلم أم لا؟


حكمه حكم اللقاء إذا عرفت أنه كافر فلا تبدأه بالسلام ، أما إذا كنت لا تعرف فليس في ذلك محظور

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/291


Agar Pesan Sampai pada Si Kecil

12 May

Ternyata anak lebih banyak berkomunikasi secara nonverbal ketimbang verbal. Saat berkomunikasi dengan mereka gunakan gerakan dan ekspresi tubuh.

Bukan hal mudah untuk berkomunikasi secara efektif dengan anak. Komunikasi merupakan penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain, baik secara verbal (kata-kata) maupun nonverbal (gerak atau simbol). Komunikasi dikatakan efektif bila pesan itu bisa dipahami oleh penerima. Komunikasi yang tidak efektif ditandai dengan pesan yang tidak nyambung, atau si penerima salah memahami pesan itu. Kasandra Oemarjadi, Psi., dari biro konsultasi Kasandra Persona Prawacana, mengatakan ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam hal berkomunikasi dengan anak batita: >>Baca Selanjutnya<<

Marah

13 Mar

‘Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: “Telah beruntung orang yang dijaga dari hawa nafsu, kemarahan dan ketamakan.”

Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata: “Kemarahan itu adalah kunci dari segala macam kejelekan”.

Dikatakan kepada Ibnul Mubarak rahimahullah: “Himpunkanlah untuk kami akhlak-akhlak yang baik dalam satu kata!” beliau rahimahullah mengatakan: “Menjauhi marah”. (Jami’ul ‘Uluw wal Hikam, hal. 372,379).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Kemarahan itu membinasakan. Dia mampu merusak akal sebagaimana khamr mampu menghilangkan kesadaran.”(An Nubdzah fi Adabi Thalabil ‘Ilmi hal. 155)

Sumber: Majalah Asy Syariah, hal. 1, edisi: Vol v/No. 57/1431 H/2010

Imunisasi Nabawi, Apakah Itu?

8 Mar

Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A. hafidzahullah

Pendahuluan

Segala puji hanya milik Allah Ta’ala Yang telah menciptakan makhluq-Nya yang membawa banyak hikmah, sehingga tiada satupun makhluk yang diciptakan dengan sia-sia.


وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dengan bermain-main.” (Qs. Al-Anbiya’ 16)

Maha Suci Allah Yang telah menciptakan makhluq-Nya dengan berpasang-pasang:


وَمِن كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasang supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (Qs. Az Dzariyat 49)

Ketentuan ini berlaku pada seluruh makhluq-Nya, tidak terkecuali berbagai penyakit yang menimpa manusia. Tidaklah Allah Ta’ala menciptakan suatu penyakit, melainkan telah menurunkan pula obatnya.

Sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda shallallahu ‘alaihi wa sallam:


لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap penyakit ada obatnya, dan bila telah ditemukan dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Saudaraku! Syari’at Islam tidak hanya mengajarkan berbagai metode pengobatan berbagai penyakit yang menimpa umatnya, Islam juga mengajarkan berbagai tindak prefentif guna melindungi mereka dari serangan berbagai penyakit.

Bila saat ini sedang booming pengobatan dengan thibbun nabawi (pengobatan ala nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka pada kesempatan ini saya mengajak anda untuk mengenal imunisasi nabawi.

Mungkin anda terkejut dengan tema pembahasan kali ini, dan saya kira anda akan semakin terkejut bila mengetahui berbagai syari’at yang akan saya paparkan di bawah ini. Selanjutnya>>>

Untukmu Anak Shalih (2)

1 Mar

Oleh: Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc hafidzahullah

8. Tidak Disiplin dan Kurang Tertib

Ketidakdisiplinan dan kurang tertibnya orang tua dalam mendidik anak akan membuat anak juga tidak disiplin dan tertib dalam menjalani hidupnya. Orangtua dan para pendidik harus menanamkan hidup disiplin dan tertib sejak usia dini sehingga anak terbiasa hidup disiplin dan tertib dalam menunaikan tugas-tugas harian, terutama yang terkait dengan kewajiban agama dan ibadah kepada Allah, tugas rumah dan tugas sekolahan. Anak harus dilatih untuk membiasakan shalat fardhu tepat waktu dan berjemaah di masjid (bagi anak laki-laki), melatih diri untuk berpuasa, serta menaati perintah orangtua dalam kebaikan, bukan dalam kemaksiatan.

Setiap orangtua atau pendidik hendaknya membuatkan jadwal rutin harian, yang berkaitan dengan ibadah, tugas harian maupun tugas sekolah, dan orangtua harus senantiasa mengontrol dan mengawasinya jangan sampai ada yang terlewatkan.

9. Hanya Pendidikan Formal
Sebagian orangtua sudah merasa cukup mendidik anak bila sudah memberi mereka pendidikan formal atau kursus bimbingan belajar. Padahal, kebanyakan lembaga tersebut mengajarkan ilmu keduniaan saja, tanpa memedulikan kebutuhan prinsipil seperti pendidikan akidah, pembinaan akhlak dan pendidikan yang berbasis pada kemandirian. Alhasil, lulus dari pendidikan formal, anak tidak bisa menghadapi realitas dan persaingan hidup. Sebab, kebutuhan ilmu sang anak tidak dapat dipenuhi hanya melalui madrasah saja. Selanjutnya>>>

Untukmu Anak Shalih (1)

28 Feb

Oleh: Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc hafidzahullah

Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua harus pandai-pandai memilih lembaga pendidikan yang sejalan dengan syariat Islam.

Banyak orang awam dan berkantong tebal salah dalam memilih lembaga pendidikan. Alih-alih mempertimbangkan kebersihan akidah dan keluhuran akhlak bagi anak-anaknya, mereka hanya berorientasi pada keberhasilan di dunia. Alhasil, mereka hanya memilih sekolah favorit yang ternama dan bergengsi walaupun harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sekolah mahal dipakai sebagai alat pengangkat prestise orangtua, sekadar alat untuk menunjukkan bahwa orangtua mampu menyekolahkan anak di sekolah pilihan orang kaya. Bila sudah begini, janganlah terlalu berharap memiliki anak shalih.

Berikut beberapa contoh kesalahan orang tua dalam memberikan pendidikan buat anak-anaknya: Selanjutnya>>>

Ujian Hakiki

19 Feb

Oleh: Ustadz Firanda Andirja Abidin hafidzahullah

Sebagian orang tatkala berada dihadapan orang lain maka ia mampu dengan mudahnya meninggalkan kemaksiatan, bahkan ia mampu untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ia mampu melaksanakan itu semua meskipun ia berada di tengah-tengah kondisi masyarakat yang tenggelam dalam lautan kemaksiatan. Ini adalah suatu kemuliaan karena ia bisa menghadapi ujian dengan baik sehingga terhindar dari kemaksiatan. Namun ingat sesungguhnya bukan ini ujian yang sebenarnya.

Allah telah melarang para hambanya untuk bermaksiat kepadaNya baik secara terang-terangan atau tatkala ia bersendirian tatkala tidak ada orang lain yang melihatnya. Seseorang yang mencegah dirinya dari melakukan kemaksiatan dihadapan khalayak tentunya berbeda dengan orang yang mencegah dirinya dari melakukan kemaksiatan tatkala ia bersendirian. Sesungguhnya ujian yang hakiki adalah ujian yang dihadapi seorang hamba tatkala ia sedang bersendirian kemudian tersedia dihadapannya sarana dan prasarana serta kemudahan baginya untuk melakukan kemaksiatan, apakah ia mampu mencegah dirinya dari kemaksiatan tersebut??. Inilah ujian yang hakiki, ujian yang sangat berat, beruntunglah bagi mereka yang bisa selamat dari ujian ini.

Ketahuliah…, orang yang mampu menghindarkan dirinya dari kemaksiatan tatkala dihadapan orang lain namun ia terjerumus dalam kemaksiatan tatkala ia sedang bersendirian merupakan orang yang tercela. Selanjutnya>>>

Seorang Ayah Melarang Anak Gadisnya Memakai Hijab, Apa Hukumnya?

16 Feb

Fatwa al Lajnah ad Daimah Lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wal Ifta’

Pertanyaan ke-6 dari fatwa No. 5953

Pertanyaan: Seorang wanita memakai hijab dihadapan laki-laki yang bukan mahramnya kemudian ayahnya mengetahui tentang hal ini dan melarangnya. Bagaimanakah hukumnya?

Jawab: Jika seandainya memang demikian kenyataannya, maka larangan ayahnya tersebut tidak dapat membahayakan si anak bahkan tidak boleh bagi seorang ayah melarang anaknya memakai hijab. Karena dia melakkukannya untuk menaati Allah sementara meninggalkan hijab termasuk perbutan maksiat. Dan tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk bermaksiat kepada sang Kholiq. Ayah tersebut telah berdosa karena perbuatannya, semoga Allah memberinya petunjuk. Selanjutnya>>>