“Tathoyyur” Sang Pembawa Sial

9 Aug

Beberapa waktu lalu ada seorang penjual sayur menimang anak saya..
“Hai busuk..
hai jelek..
Saya sepontan kaget, sama anak kecil kok memanggil dengan panggilan yang buruk..
Sang penjual sayur mengatakan,
“Maaf ya mba..kalo adat disini menimang anak kecil memang begitu , kita dilarang memanggil
Hai cantik..
Hai gendut..
Tar anaknya bisa sakit mba..
Itu pantanganbagi kami”.
Dengan terheran heran saya jawab, “Ya ga ada hubunganya bu,
Sakit tu ya karena memang Allah telah menakdirkan sakit, orang saya tiap hari manggil anak saya ini , cantikku…Masyaalah genduut…buktinya juga ga sakit!”.
Sang penjual sayurpun terdiam..
Demikianlah realita masyarakat kita. Masih banyak keyakinan-keyakinan jahiliyah yang mengakar dihati dan jiwa kaum muslimin. Seperti juga adanya burung gagak pertanda ada orang meninggal, kejatuhan cecak pertanda akan datangnya musibah diperjalanan dan masih seabrek keyakinan- keyakianan kotor semacam ini.Entah karena mereka hanya ikut-ikutan orang tua jaman dulu atau karena mereka dibisiki syaithan untuk mengkait-kaitkan suatu peristiwa dengan kejadian yang aka terjadi.
Mereka lebih memilih zodiac untuk kebahagiaan mereka,
Mereka lebih memilih pergi ketukang ramal untuk keberuntungan mereka,
Mereka lebih memilih sayur lodeh untuk keselamatan dari bencana..
Justru itu semua adalah sebab kesialan dan bencana di dunia dan akherat. Walahaula wala quwwata illa billah

Saudaraku yang saya cintai karena Allah..
Apa sebenarnya tathayyur itu ?
Tathayyur atau nama lainnya thiyaroh adalah menyandarkan nasib sial, nasib buruk atau adanya kematian , kecelakaan kepada gerakan burung atau kepada peristiwa lain. Ini merupakan tindak tanduk jahiliyah, kenapa? Karena kebiasaan musyrikin jahiliyah jaman dahulu ketiaka akan pergi mereka menerbangkan burung sampai mereka melihat kemana burung itu pergi. Sehingga mereka bisa meramalkan bahwa safar kali ini adalah safar yang baik ataukah safar yang buruk. Namun tathayyur itu tidak sebatas hanya pada burung saja, tapi pada semua peristiwa yang membuat hati merasa takut atau bahagia karena akan terjadinya sesuatu.
Tathayyur termasuk syirik
Allah Subhanah telah menjelaskan secara gamblang dalam Al Qur’an pada surat Al-A’raf:131
“Ketika kebaikan datang kepada mereka, mereka berkata ini adalah milik kami. Ketika keburukan menimpa mereka, mereka menimpakan kesialan itu kepada Nabi Musa dan pengikutnya. Ketahuilah bahwa kesialan mereka itu datangnya dar sisi Allah akan tetapi kebanyakn mereka tidak mengetahuinya”
Sayikh Shalih Alu Syaikh hafidzahullah menjelaskan, ayat ini menunjukkan bahwa thiyaroh itu termasuk ciri musuh para rasul dan termasuk tingkah laku kaum musyrikin. Thiyaroh itu tercela, dan diantara tingkah laku musyrikin adalah kesyirikan, dan thiyaroh itu bukan termasuk perilaku pengikut para rasul. Adapun pengikut para rasul mereka menyandarkan semuanya kepada qadha dan qadar Allah, apakah Allah menimpakan kebaikan sebagai pahala atas amalnya ataukah menimpakan keburukan sebagai hukuman dari amal yang telah mereka perbuat.
Larangan ini juga ditegaskan Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Tidak ada penyakit, tidak ada thiyaroh, tidak ada hammah(sengatan binatang), tidak ada penyakit kuning. Dikeluarkan oleh Bukhari (5757) dan Muslim (2220).
Maksud dari hadits ini sebagaimana dijelaskan Syaikh Shalih Alu Syaikh hafidzahullah, bahwasanya peniadaan diatas bukan berarti meniadakan penyakit (penyakit itu tidak ada wujudnya) atau thiyaroh itu tidak pernah diyakini orang, karena sebagaimana kita ketahui bahwa thiyaroh itu menjadi kepercayaan orang-orang musyrikin jahiliyah. Namun yang dimaksudkan hadits tersebut meniadakan pengaruh dengan sendirinya. Sehingga kalimat sempurnanya berbunyi, tidak ada penyakit yang berpengaruh dengan sendirinya, tapi dia menular dengan izin Allah ‘azza wa Jalla. Begitu juga untuk thiyaroh, thiyaroh sama sekali tidak mempengaruhi ketetapan dan takdir Allah Ta’ala, tidak juga terhadap hukum dan kerajaan Allah. Kesimpulannya bahwa semua yang menimpa manusia itu semata-mata atas ketetapan dan takdirNya.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud secara marfu’:”Thiyaroh itu syirik, thiyaroh itu syirik, thiyaroh itu syirik. Riwayat Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau menshohihkannya. Syirik yang dimaksudkan disini adalah syirik kecil.
Tathoyyur seperti apa yang di kategorikan sebagai syirik ?
Hadits dari Ibnu Amr :”Barangsiapa yang berpaling dari suatu perbuatan karena thiyaroh maka dia telah berbuat syirik”. Mereka bertanya :”Apa penebusnya?” Beliau menjawab :”Hendaknya dia berdoa, Ya Allah tidak ada kebaikan kecuali berasal dariMu dan tidak ada nasib sial kecuali datang dari sisiMu”. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (2/220). Inilah yang menjadi patokan thiyaroh disebut syirik, seseorang berpaling dari keinginannya dan membatalkan hajatnya karena thiyaroh. Namun jika dia tidak sampai membatalkan hajatnya dan tidak merespon thiyaroh yang ada dihatinya maka hal ini tidaklah mengapa kecuali jika perasaan thiyaroh itu semakin membesar, maka bisa jadi dia jatuh pada perkara yang diharamkan. Dan yang bisa menghilangkan semua itu adalah tawakkal kepada Allah, menggantungkan harapan kepada Allah dan berhusnudzan kepadaNya jalla wa ‘ala.
Bagaimana jika terlajur menimpa hati ?
Syaithan tidak akan pernah berhenti untuk menyesatkan manusia. Dia berusaha mebisiki hati untuk condong kepada kebathilan. Meski kita tahu bahwa thiyaroh itu termasuk syirik namun kadang-kadang tetap saja rasa was-was, kekhawatiran muncul dibenak kita. Takut nanti ada apa-apa, kalo nanti ada kecelakaan, takut nanti ada yang meninggal di keluarga kita dan seterusnya. Sehingga kita dibayang-bayangi perasaan takut yang berkepanjangan. Lantas apa tuntunan Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam ketika tathoyyur melintasi hati?. Hendaknya seseorang kembali mengerjakan apa yang akan dia lakukan dan memperbesar tawakkalnya kepada Allah Ta’ala.

Allahumma inni a’udzubika an asyraka bika syaian lima a’lamuhu wa astaghfiruka lima la a’lamu”
“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari perbuatan syirik yang kami ketahui dan kami mohon ampun kepadaMu atas perbuatan syirik yang tidak kami ketahui.”

Washalallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.
Tulisan ini banyak diambil dari kitab Attamhid Li Syarhi Kitab Attauhid oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh hafidzahullahu ta’ala.

5 Responses to ““Tathoyyur” Sang Pembawa Sial”

  1. ummu hamzah 23 September 2009 at 7:47 am #

    Mbak bagus mbak……semoga dimudahkan Allah agar blog ini semakin bersemi dan tambah indah……..

  2. Ummu Fathimah 26 September 2009 at 9:25 am #

    iya dek, amin,jazakillahu khairan

  3. Ummu Shofiyyah al-Balitariyyah 8 November 2009 at 5:09 am #

    assalamu’alaikum warohmatulloh
    salam kenal ukhti..
    blognya bagus..
    ijin tautkan ke blog ana ya..

  4. Ummu Fathimah 14 November 2009 at 8:54 pm #

    wa,alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,
    iya salam kenal juga Ukhtiy..
    tafadhdholi, silahkan ditautkan, semoga bermanfaat..amin

  5. sayid novriza alqudsi alhasani 16 July 2010 at 6:09 pm #

    alhamdulillah,ana dapat pencerahan dari blok ini,ana jd tau thiyaroh itu tergolong syirik yg mana,syukron informasinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: