<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>إنما العلم بالتعلُّم</title>
	<atom:link href="http://sudahtahukahanda.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sudahtahukahanda.wordpress.com</link>
	<description>Sesungguhnya Ilmu Itu Didapat Dengan Belajar</description>
	<lastBuildDate>Sun, 24 Jul 2011 17:22:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sudahtahukahanda.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/15c0f87c9ca2288a79b6bfaa45a386d9?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>إنما العلم بالتعلُّم</title>
		<link>http://sudahtahukahanda.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sudahtahukahanda.wordpress.com/osd.xml" title="إنما العلم بالتعلُّم" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sudahtahukahanda.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kenapa Ta&#8217;at Sambil Duduk, Bermaksiat Sambil Berdiri?</title>
		<link>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/09/15/kenapa-taat-sambil-duduk-bermaksiat-sambil-berdiri/</link>
		<comments>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/09/15/kenapa-taat-sambil-duduk-bermaksiat-sambil-berdiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Sep 2010 01:57:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Fathimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudahtahukahanda.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[﻿Abu Muhammad Yahya bin Al Mubaarak Al Yaziidy -guru Al Ma&#8217;mun ketika masih kanak-kanak- berkata, &#8220;Pada suatu hari, saya shalat sambil duduk. Ketika Al Ma&#8217;mun membuat kesalahan, saya berdiri hendak memukulnya. Al Ma&#8217;mun pun berkata,&#8221;Wahai Syeikh! Kenapa Anda ta&#8217;at kepada Allah sambil duduk, namun bermaksiat kepadaNya sambil berdiri?!&#8221; Maka aku pun memberitakan hal itu kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=181&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>﻿Abu Muhammad Yahya bin Al Mubaarak Al Yaziidy -guru Al Ma&#8217;mun ketika masih kanak-kanak- berkata, &#8220;Pada suatu hari, saya shalat sambil duduk. Ketika Al Ma&#8217;mun membuat kesalahan, saya berdiri hendak memukulnya. Al Ma&#8217;mun pun berkata,&#8221;Wahai Syeikh! Kenapa Anda ta&#8217;at kepada Allah sambil duduk, namun bermaksiat kepadaNya sambil berdiri?!&#8221;<br />
Maka aku pun memberitakan hal itu kepada Harun Ar Rasyid (ayah Al Ma&#8217;mun). Lalu aku diberi hadiah sebesar 5000 dirham.&#8221; (<em>Hikaayaat wa Nawaadir Al Athfaal fit Turaats</em>, hal 109, DR. &#8216;Abdurrazzaq Husain)</p>
<p>Kisah di atas menunjukkan kecerdasan seorang Al Ma&#8217;mun, padahal dia masih kecil. Terlepas dari itu, hendaknya kita mempertanyakan diri kita masing-masing dengan pertanyaan &#8216;Al Ma&#8217;mun kecil&#8217; tersebut:<br />
* Kenapa Anda taat kepada Allah sambil duduk, namun bermaksiat kepadaNya sambil berdiri?<br />
* Kenapa Anda taat kepada Allah dengan bermalas-malasan, namun bermaksiat kepadaNya dengan segala daya upaya?<br />
* Kenapa Anda taat kepada Allah secara terpaksa, namun bermaksiat kepadaNya dengan sepenuh hati?<br />
* Kenapa Anda lemah dalam memperbanyak bekal akhirat, namun bersemangat dalam mengejar impian duniawi?</p>
<p><em>Afalaa ta&#8217;qiluun</em>?</p>
<p>Sumber: <a href="http://perindufirdausmu.multiply.com/journal/item/144/Kenapa_Taat_sambil_duduk_Bermaksiat_sambil_berdiri">Blog Sahabatku</a> [Jazahallahu khaira]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudahtahukahanda.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudahtahukahanda.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudahtahukahanda.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudahtahukahanda.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=181&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/09/15/kenapa-taat-sambil-duduk-bermaksiat-sambil-berdiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/df6032fe4c23df8a981913582c37444c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatheema</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Penghafal Al Qur&#8217;an</title>
		<link>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/05/25/menjadi-penghafal-al-quran/</link>
		<comments>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/05/25/menjadi-penghafal-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 16:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Fathimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudahtahukahanda.wordpress.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah tips menarik cara mengahafal Al Qur&#8217;an yang insyaallah sangat bermanfaat. Selamat mencoba semoga Allah memudahkan. Cara mudah menjadi penghapal quran? Muslim yang mukmin pasti ingin mengetahuinya. Tapi sesuatu yg sudah ditakdirkan mudah tuk dihapal, apakah masih memerlukan cara mudah lagi? &#8220;Dan sesungguhnya telah kami mudahkan al-Quran untuk peringatan, maka adakah yang mengambil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=177&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Berikut ini adalah tips menarik cara mengahafal Al Qur&#8217;an yang insyaallah sangat bermanfaat. Selamat mencoba semoga Allah memudahkan.<br />
</em></p>
<p><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;">Cara mudah menjadi penghapal quran? Muslim yang mukmin pasti ingin mengetahuinya. Tapi sesuatu yg sudah ditakdirkan mudah tuk dihapal, apakah masih memerlukan cara mudah lagi? &#8220;Dan sesungguhnya telah kami mudahkan al-Quran untuk peringatan, maka adakah yang mengambil pelajaran?&#8221;(al-Qomar: 17, 22, 32, 40)</span><span id="more-177"></span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;"> Yup, al-Quran telah ditakdirkan untuk mudah dihapal. Tak perlulah kita membahas lagi dari segi teknis, seperti banyaknya kata-kata yang diulang dan sebagainya. Rasanya sudah banyak tulisan-tulisan lain yang membahas hal tersebut. Cukuplah firman Allah di atas menjadi rujukan, lalu kita beriman dan kita beramal sesuai keimanan kita tersebut. </span><br />
<span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;"><br />
Yup, al-Quran telah ditakdirkan untuk mudah dihapal. Oleh karena itu saya hanya akan menceritakan pengalaman sendiri, yang sebenarnya juga masih sangat jauh dari menjadi penghapal quran. Namun tak ada salahnya untuk sedikit berbagi pengalaman untuk saling menyemangati dalam perjalanan menuju kedudukan para penghapal quran. </span><br />
<span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;"><br />
Baiklah kita langsung masuk ke poin pembicaraan. Berikut ini saya akan mengurut cara-cara menghapal quran yang pernah dipraktekkan.</span><br />
<span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;"><br />
Pertama, mengulang-ulang membaca ayat/surat yang ingin dihapal. Cara ini bagus untuk menumbuhkan semangat dan kesadaran bahwa menghapal quran itu mudah. Dulu, ketika masih memakai cara ini, saya mengulang-ngulang membaca surat yang ingin dihapal setiap hari 1-2 kali (panjang surat sekitar 1,5 sampai 2 halaman). Biasanya setelah sholat dhuha. Hal tersebut terus dilakukan selama sekitar 25 hari. Pada hari ke-26 surat tersebut mulai dihapalkan ayat per ayat. Dengan menyediakan waktu beberapa menit setiap hari, dalam 2-3 hari surat tersebut bisa dihapal dengan sempurna. </span><br />
<span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;"><br />
Keuntungan cara ini adalah, ketika mulai menghapal pada hari ke-26, maka terasa sangat mudah menghapalnya. Ini dikarenakan ayat yang ingin dihapal sudah terbiasa dibaca. Perasaan mudah menghapal ini menjadikan kita cepat melaju ke ayat-ayat berikutnya, sampai-sampai hapalan yang dijadwalkan selesai dalam 2-3 hari ingin segera diselesaikan dalam 1 hari. Keuntungan lain dari cara ini yaitu, hapalan lebih sulit untuk hilang, karena sudah terbiasa dibaca sebelumnya. Sebagai catatan saya, cara ini semakin ampuh ketika dipakai untuk menghapalkan surat-surat yang berisi ayat-ayat pendek, seperti al-Mudatstsir, al-Muzammil, al-Qiyamah, sebagian besar surat-surat juz 30, dll. </span><br />
<span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;"><br />
Adapun cara kedua yang pernah dipakai oleh saya dalam menghapalkan quran dan masih dipakai sampai sekarang adalah, mengahapalkan ayat sambil melihat artinya dan memahami alur cerita ayat/ surat tersebut. Dalam menggunakan cara ini, saya biasanya menyediakan waktu khusus tiap pekan sekitar 1 jam. Dalam waktu 1 jam ini biasanya saya berhasil menghapal 1 halaman. Cara ini rasanya cocok untuk orang yang sudah mulai terbiasa menghapal quran. Dan sebagai catatan saya, cara ini paling ampuh dipakai untuk menghapalkan surat dengan ayat-ayat yang panjang atau agak panjang, seperti al-Baqoroh, al-Ahqof, al-Hadiid, dll.</span><br />
<span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;">Oh ya, keuntungan cara ini adalah  bertambahnya perbendaharaan kosa kata bahasa arab penghapal, dan penguasaan terhadap ayat-ayat al-Quran yang dihapal (karena mengetahui artinya).</span><br />
<span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;"><br />
Selain 2 cara di atas, salah satu cara yang juga bagus dipakai dalam menghapal quran adalah mengulang-ulang mendengar bacaan surat yang ingin dihapal. Cara ini secara murni hanya pernah satu kali saya praktekkan. Yaitu ketika menghapal surat as-Sajadah. Itupun mengulang-ulang mendengarnya tidak disengaja, melainkan karena imam mesjid dekat tempat tinggal saya setiap sholat shubuh pada hari jumat selalu membaca surat tersebut. Keuntungan dari cara ini kurang lebih sama dengan keuntungan dari cara pertama di atas. </span><br />
<span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;"><br />
Demikian 3 cara menghapal quran yang pernah saya praktekkan. Cara-cara ini terkadang saya praktekkan secara murni dan terkadang juga dikombinasikan satu sama lain. Jadi memang tidak perlu saklek.</span><br />
<span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;"><br />
Selain cara-cara menghapal, berikut ini beberapa tips yang insya Allah dapat membantu kita dalam menghapal quran.</span><br />
<span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;"><br />
Pertama, sering mendengar tilawah quran dari qori` yang sudah benar bacaannya. Sebaiknya tetapkan satu qori` favorit. Hal ini akan membantu kita dalam menjaga tajwid dan lagu tilawah kita.</span><br />
<span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;"><br />
Kedua, tetapkan target-target jangka pendek. Dengan memiliki target kita akan terpacu untuk terus istiqomah dalam menghapal.</span><br />
<span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;"><br />
Ketiga, mulailah menghapal dari ayat yang sering kita dengar atau kita baca. Jika dulu kita sering membaca surat Yasiin, maka mulailah hapalan kita dari surat Yasiin. Maka kita akan merasakan kemudahan menghapal quran sehingga tumbuhlah semangat kita dalam menghapal.</span><br />
<span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;"><br />
Demikian beberapa cara dan tips dari pengalaman pribadi saya. Saya pribadi masih jauh dari menjadi seorang penghapal quran. Karena itu yang saya tulis di sini bukanlah suatu ajaran bagaimana menghapal quran, tapi lebih pada suatu ajakan untuk bersama dalam barisan orang-orang yang menghapalkan al-quran. Rasanya bagus kalau semakin banyak orang yang menceritakan pengalamannya di sini. Bagaimana kalau anda yang selanjutnya?</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma;font-size:x-small;">Sumber: </span>http://al-hafizh.com/artikel/08012006.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudahtahukahanda.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudahtahukahanda.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudahtahukahanda.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudahtahukahanda.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=177&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/05/25/menjadi-penghafal-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/df6032fe4c23df8a981913582c37444c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatheema</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendahului Salam Saat Menerima Telepon</title>
		<link>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/05/18/mendauhului-salam-saat-menerima-telpon/</link>
		<comments>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/05/18/mendauhului-salam-saat-menerima-telpon/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 09:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Fathimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudahtahukahanda.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah Pertanyaan: Apa hukum mengucapkan salam kepada penelpon sementara kita tidak mengetahui apakah dia muslim atau kafir? Jawab: Hukumnya sama halnya ketika engkau bertemu dengan seseorang dan jika engkau tahu dia orang kafir maka janganlah engkau memulai mengucapkan salam kepadanya. Adapun jika engkau tidak tahu (apakah dia muslim atau kafir)maka tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=168&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Syaikh Ibnu Baaz <em>rahimahullah</em></strong></p>
<p>Pertanyaan: Apa hukum mengucapkan salam kepada penelpon sementara kita tidak mengetahui apakah dia muslim atau kafir?</p>
<p>Jawab: Hukumnya sama halnya ketika engkau bertemu dengan seseorang dan jika engkau tahu dia orang kafir maka janganlah engkau memulai mengucapkan salam kepadanya. Adapun jika engkau tidak tahu (apakah dia muslim atau kafir)maka tidak ada larangan dalam hal ini.</p>
<p style="text-align:right;"><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
ما حكم إلقاء السلام على الشخص المتحدث بالهاتف إذا كان لا يعرف هل هو مسلم أم لا؟</span></strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
حكمه حكم اللقاء إذا عرفت أنه كافر فلا تبدأه بالسلام ، أما إذا كنت لا تعرف فليس في ذلك محظور</span></strong></p>
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:left;">Sumber: <a href="http://www.binbaz.org.sa/mat/291">http://www.binbaz.org.sa/mat/291</a></p>
<p style="text-align:right;"><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
</span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudahtahukahanda.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudahtahukahanda.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudahtahukahanda.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudahtahukahanda.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=168&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/05/18/mendauhului-salam-saat-menerima-telpon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/df6032fe4c23df8a981913582c37444c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatheema</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agar Pesan Sampai pada Si Kecil</title>
		<link>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/05/12/agar-pesan-sampai-pada-si-kecil/</link>
		<comments>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/05/12/agar-pesan-sampai-pada-si-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 16:28:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Fathimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiyatul aulad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudahtahukahanda.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata anak lebih banyak berkomunikasi secara nonverbal ketimbang verbal. Saat berkomunikasi dengan mereka gunakan gerakan dan ekspresi tubuh. Bukan hal mudah untuk berkomunikasi secara efektif dengan anak. Komunikasi merupakan penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain, baik secara verbal (kata-kata) maupun nonverbal (gerak atau simbol). Komunikasi dikatakan efektif bila pesan itu bisa dipahami oleh penerima. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=164&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>T</em><em>ernyata anak lebih banyak berkomunikasi secara nonverbal ketimbang verbal. Saat berkomunikasi dengan mereka gunakan gerakan dan ekspresi tubuh.</em></p>
<p>Bukan hal mudah untuk berkomunikasi secara efektif dengan anak. Komunikasi merupakan penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain, baik secara verbal (kata-kata) maupun nonverbal (gerak atau simbol). Komunikasi dikatakan efektif bila pesan itu bisa dipahami oleh penerima. Komunikasi yang tidak efektif ditandai dengan pesan yang tidak nyambung, atau si penerima salah memahami pesan itu. <strong>Kasandra Oemarjadi, Psi.,</strong> dari biro konsultasi Kasandra Persona Prawacana, mengatakan ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam hal berkomunikasi dengan anak batita:<span id="more-164"></span></p>
<p><strong>KEMAMPUAN USIA BATITA</strong></p>
<p>Kemampuan berbicara merupakan keterampilan mental-motorik. Dengan kata lain, bicara tidak hanya melibatkan fungsi otot bicara dan sekumpulan bunyi saja, tapi juga melibatkan fungsi mental yaitu memahami arti dari bunyi yang dihasilkan. Inilah berbagai kemampuan berkomuikasi yang ditunjukkan anak batita:</p>
<p>* Bicara membeo.</p>
<p>Jika anak usia ini sering meniru kata yang diucapkan orang dewasa atau anak lain seperti halnya seekor burung beo, itu karena ia baru bisa meniru bunyi tapi belum memiliki kemampuan mental komunikasi.</p>
<p>* Paham benda dan fungsinya baru secara konkret.</p>
<p>Misalnya gelas untuk minum atau pulpen untuk menulis. Ia belum bisa memahami kata-kata abstrak   seperti tanggung jawab atau stres.</p>
<p>* Perbendaharaan kata terbatas.</p>
<p>Anak batita awal atau pertengahan (12-18 bulan) malah mungkin belum bisa berkata-kata sama sekali. Itulah sebabnya, komunikasi yang kerap dilakukan anak usia ini bersifat nonverbal.</p>
<p>* Berperilaku tak terduga.</p>
<p>Keterbatasan si batita berkomunikasi secara verbal memunculkan banyak perilaku tak disangka-sangka. Misalnya melakukan protes dengan cara mengganggu orang tuanya yang sedang membaca koran karena sibuk sendiri dan tidak memperhatikan dirinya.</p>
<p>* Daya tangkapnya belum sebaik anak prasekolah atau sekolah.</p>
<p>Tak heran banyak anak bingung saat mendapat larangan maupun perintah yang merupakan pertanda ia belum mengerti secara utuh ucapan orang tuanya.</p>
<p>*  Meski sudah bisa bicara, bukan berarti sudah paham benar arti dan penggunaan kata-kata. Contohnya, &#8220;bola&#8221; bukan sebagai bola yang bentuknya bulat saja, melainkan untuk semua mainannya. Atau menyebut &#8220;teh&#8221; untuk semua minuman.</p>
<p>* Hanya bisa menangkap pesan-pesan singkat.</p>
<p>Agar anak tidak bingung, orang tua harus membatasi diri pada ungkapan &#8220;ya&#8221; sebagai   tandasetuju dan &#8220;tidak&#8221; sebagai larangan.</p>
<p><strong>AGAR PESAN SAMPAI..<!--more--><!--more--><!--more--></strong></p>
<p>* Hindari intonasi bernada rendah atau meninggi.</p>
<p>Bicaralah secara jelas dan tegas tapi tidak membentak. Nada rendah boleh dipakai jika memang maksudnya menyuruh anak tidak berisik. Lakukanlah pengulangan terhadap isi pesan sampai anak paham.</p>
<p>* Barengi dengan ekspresi wajah.</p>
<p>Ini berfungsi sebagai penegas dari pesan itu. Seperti mata berbinar dan mulut lebar tanda gembira, atau tampang cemberut sebagai ungkapan keberatan terhadap perilaku negatif anak.</p>
<p>* Manfaatkan gerakan tubuh.</p>
<p>Contohnya, dinginnya kulkas bisa dijelaskan dengan pura-pura menggigil. Lalu pedasnya sambal dengan menjulurkan lidah sambil berkata &#8220;Huhah&#8230;huhah.&#8221;</p>
<p>* Gunakan bantuan tangan.</p>
<p>Peragaan dengan tangan salah satunya bermanfaat untuk mengenalkan bentuk pada anak. Seperti mempertemukan ujung telunjuk dan jempol di tangan kanan dan kiri untuk menunjukkan bentuk bundar. Minta anak supaya meniru gerakan-gerakan tersebut.</p>
<p>* Sejajarkan posisi tubuh.</p>
<p>Posisi tubuh orang dewasa yang sejajar dengan tinggi anak membuatnya mudah menerima pesan. Itu karena ia dapat melihat gerakan bibir dan mimik wajah orang tuanya. Caranya, dengan berjongkok atau condongkan badan ke depan.</p>
<p>* Tatap mata anak.</p>
<p>Tatapan mata dengan pandangan kasih membuat anak merasa diperhatikan yang memudahkannya menyampaikan sesuatu. Cara lain adalah merangkul atau menggendongnya. Sentuhan hangat semacam ini akan membuat anak merasa aman dan nyaman, sehingga ia pun terbantu menyerap pesan orang tuanya.</p>
<p>* Hindari aksesori menyeramkan.</p>
<p>Kalau anak takut saat bertatap muka dengan orang dewasa, bukan tidak mungkin penyebabnya adalah penampilan si orang dewasa yang di mata anak sangat menyeramkan. Misalnya karena memakai kacamata berbingkai lebar, aksesori metal yang besar, topi lebar, dan sebagainya.</p>
<p>* Gunakan alat bantu.</p>
<p>Anak usia ini masih berpikir konkret. Penggunaan alat bantu sesekali bisa digunakan. Contohnya, tunjukkan bilah gunting yang tajam kala menjelaskan gunting bisa melukai tangannya. Anak bisa mengasosiasikan guntingan kertas sebagai bukti konkret dari tajamnya gunting dan kemungkinannya melukai tangan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KESALAHAN DAN HAMBATAN</strong></p>
<p>* Waktu Bertemu Sedikit</p>
<p>Kesibukan orang tua bekerja kerap menyulitkannya untuk meluangkan waktu berkomunikasi dengan anak. Apalagi bila jarak rumah dan tempat kerja relatif jauh ditambah hambatan lalu lintas di mana-mana, mau tidak mau berangkat harus pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Akibatnya, anak enggan berkomunikasi dan sulit sekali mengembangkan keterampilan berbahasanya.</p>
<p>* Terlambat Mengajak Bicara</p>
<p>Banyak orang tua menaruh sikap kurang peduli dengan perlunya menjalin komunikasi sejak awal kehadiran anak. Padahal anggapan bahwa anak baru bisa diajak berkomunikasi kalau sudah pandai bicara jelas keliru. Wajar saja jika suatu saat anak berdiam diri karena marah pada orang tuanya dan butuh tanggapan segera.</p>
<p>* Pengenalan 2 Benda Sekaligus</p>
<p>Contohnya mengenalkan sendok dan garpu sekaligus. Anak akan bingung, mana yang sendok dan mana yang garpu. Akibatnya, bukan tidak mungkin anak akan menyebutnya terbolak-balik, sendok jadi garpu dan sebaliknya.</p>
<p>* Salah Melafalkan Kata</p>
<p>Sering kan, orang tua malah ikut-ikutan jadi anak kecil dengan melafalkan kata tertentu secara salah. Misalnya, &#8220;susu&#8221; dibilang &#8220;cucu&#8221;, &#8220;motor&#8221; dibilang &#8220;motol&#8221;, dan sebagainya. Yang benar, sekalipun anak menyebut &#8220;susu&#8221; dengan &#8220;cucu&#8221;, orang tua tetaplah konsisten menyebut &#8220;susu&#8221; agar anak tahu bagaimana pengucapan yang benar dan menirunya.</p>
<p>Semoga bermafaat&#8230;</p>
<p>Sumber: Arsip Milis Sehat</p>
<p>Website: http://www.sehatgroup.web.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudahtahukahanda.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudahtahukahanda.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudahtahukahanda.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudahtahukahanda.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=164&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/05/12/agar-pesan-sampai-pada-si-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/df6032fe4c23df8a981913582c37444c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatheema</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Marah</title>
		<link>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/03/13/marah/</link>
		<comments>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/03/13/marah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 17:13:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Fathimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatunnufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudahtahukahanda.wordpress.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[‘Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: “Telah beruntung orang yang dijaga dari hawa nafsu, kemarahan dan ketamakan.” Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata: “Kemarahan itu adalah kunci dari segala macam kejelekan”. Dikatakan kepada Ibnul Mubarak rahimahullah: “Himpunkanlah untuk kami akhlak-akhlak yang baik dalam satu kata!” beliau rahimahullah mengatakan: “Menjauhi marah”. (Jami’ul ‘Uluw wal Hikam, hal. 372,379). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=161&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>‘Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: “Telah beruntung orang yang dijaga dari hawa nafsu, kemarahan dan ketamakan.”</p>
<p>Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata: “Kemarahan itu adalah kunci dari segala macam kejelekan”.</p>
<p>Dikatakan kepada Ibnul Mubarak rahimahullah: “Himpunkanlah untuk kami akhlak-akhlak yang baik dalam satu kata!” beliau rahimahullah mengatakan: “Menjauhi marah”. (<em>Jami’ul ‘Uluw wal Hikam</em>, hal. 372,379).</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Kemarahan itu membinasakan. Dia mampu merusak akal sebagaimana khamr mampu menghilangkan kesadaran.”(<em>An Nubdzah fi Adabi Thalabil ‘Ilmi</em> hal. 155)</p>
<p>﻿Sumber: Majalah Asy Syariah, hal. 1, edisi: Vol v/No. 57/1431 H/2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudahtahukahanda.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudahtahukahanda.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudahtahukahanda.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudahtahukahanda.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/161/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=161&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/03/13/marah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/df6032fe4c23df8a981913582c37444c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatheema</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imunisasi Nabawi, Apakah Itu?</title>
		<link>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/03/08/imunisasi-nabawi-apakah-itu/</link>
		<comments>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/03/08/imunisasi-nabawi-apakah-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 16:34:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Fathimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thibbun Nabawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudahtahukahanda.wordpress.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A. hafidzahullah Pendahuluan Segala puji hanya milik Allah Ta&#8217;ala Yang telah menciptakan makhluq-Nya yang membawa banyak hikmah, sehingga tiada satupun makhluk yang diciptakan dengan sia-sia. وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ &#8220;Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dengan bermain-main.&#8221; (Qs. Al-Anbiya&#8217; 16) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=156&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A. <em>hafidzahullah</em></strong></p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Segala puji hanya milik Allah Ta&#8217;ala Yang telah menciptakan makhluq-Nya yang membawa banyak hikmah, sehingga tiada satupun makhluk yang diciptakan dengan sia-sia.</p>
<p style="text-align:right;"><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ</span></strong></p>
<p><em>&#8220;Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dengan bermain-main.&#8221;</em> (Qs. Al-Anbiya&#8217; 16)</p>
<p>Maha Suci Allah Yang telah menciptakan makhluq-Nya dengan berpasang-pasang:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
وَمِن كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ</span></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasang supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.&#8221;</em> (Qs. Az Dzariyat 49)</p>
<p>Ketentuan ini berlaku pada seluruh makhluq-Nya, tidak terkecuali berbagai penyakit yang menimpa manusia. Tidaklah Allah Ta&#8217;ala menciptakan suatu penyakit, melainkan telah menurunkan pula obatnya.</p>
<p>Sahabat Jabir <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> meriwayatkan dari Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bahwa beliau bersabda <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ</span></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Setiap penyakit ada obatnya, dan bila telah ditemukan dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Saudaraku! Syari&#8217;at Islam tidak hanya mengajarkan berbagai metode pengobatan berbagai penyakit yang menimpa umatnya, Islam juga mengajarkan berbagai tindak prefentif guna melindungi mereka dari serangan berbagai penyakit.</p>
<p>Bila saat ini sedang booming pengobatan dengan thibbun nabawi (pengobatan ala nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>), maka pada kesempatan ini saya mengajak anda untuk mengenal imunisasi nabawi.</p>
<p>Mungkin anda terkejut dengan tema pembahasan kali ini, dan saya kira anda akan semakin terkejut bila mengetahui berbagai syari&#8217;at yang akan saya paparkan di bawah ini.<span id="more-156"></span></p>
<p>Saudaraku! Tema ini adalah salah satu bukti bahwa Islam adalah syari&#8217;at yang sempurna, tidak ada kekurangan sedikitpun padanya.<br />
Kekurangan hanya ada pada diri kita sebagai umat Islam. Kita kurang atau bahkan tidak memahami berbagai syari&#8217;at Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Akibat dari kekurangan kita ini, akhirnya kita berserah diri dan beranggapan bahwa Islam tidak mengajarkan kepada kita Ilmu kesehatan, atau ilmu sosial, atau perniagaan atau lainnya.</p>
<p>Karenanya, marilah kita terus menggali dan mengkaji syari&#8217;at Allah ini, agar kita menyadari dan yakin bahwa ternyata Islam adalah pedoman hidup yang harus kita terapkan dalam segala aspek kehidupan kita.</p>
<p>Berikut saya sebutkan beberapa syari&#8217;at Islam yang memiliki peran dan fungsi mencegah datangnya berbagai penyakit:</p>
<p><strong><strong><strong><strong>A. Membaca basmalah ketika berhubungan suami istri</strong></strong></strong></strong></p>
<p>Ketahuilah bahwa diantara biang berbagai penyakit ialah lalai dari dzikir kepada Allah.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sedikit memberikan gambaran tentang kaitan antara penyakit fisik dengan kelalaian anda dari mengingat Allah:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
.يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ على قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إذا هو نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ، فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فذكر اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صلى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ. متفق عليه</span></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Setan senantiasa mengikatkan pada tengkuk salah seorang dari kalian bila ia tidur tiga ikatan, lalu ia memukul setiap ikatan (agar menjadi kuat) sambil berkata: &#8220;malam masih panjang, maka tidurlah&#8221; bila ia terjaga, kemudian ia menyebut nama Allah, maka terurailah satu ikatan, bila ia berwudlu, maka terurailah satu ikatan, dan bila ia menunaikan sholat, maka terurailah satu ikatan, sehingga iapun pada pagi itu dalam keadaan bersemangat dan berjiwa baik, bila tidak, maka ia akan berjiwa buruk dan malas.&#8221; </em>(Muttafaqun &#8216;alaih)</p>
<p>Dengan jelas Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyatakan bahwa diantara akibat langsung dari perbuatan anda melalaikan salah satu dari ketiga hal di atas ialah jiwa anda menjadi buruk, dan semangat anda luntur, serta merasa malas.<br />
Dari hadits ini dan juga lainnya, dapat disimpulkan bahwa dzikir kepada Allah dalam segala keadaan, memiliki peran yang sangat besar dalam menangkal berbagai penyakit jiwa dan raga kita.</p>
<p>Dan diantara dzikir yang sangat efektif menangkal berbagai penyakit, terutama pada anak-anak kita ialah bacaan basmalah yang diucapkan oleh pasangan suami istri ketika hendak bergaul.</p>
<p>Subhanallah, bacaan basmalah pada saat itu, bukan hanya mencegah ulah setan dari diri mereka berdua, akan tetapi juga berkelanjutan pada anak yang Allah karuniakan kepada mereka dari hasil pergaulan tersebut.</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
عن ابن عَبَّاسٍ رضي الله عنهما عن النبي  قال: أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إذا أتى أَهْلَهُ وقال: بِسْمِ اللَّهِ اللهم جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ ما رَزَقْتَنَا، فَرُزِقَا وَلَدًا، لم يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ ولم يُسَلَّطْ عليه. متفق عليه</span></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p>&#8220;Dari sahabat Ibnu &#8216;Abbas radhiallahu &#8216;anhuma, dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda: &#8220;Ketahuilah bahwa sesungguhnya salah seorang dari kamu bila mendatangi istrinya, dan ia membaca:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
بِسْمِ اللَّهِ اللهم جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ ما رَزَقْتَنَا</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Dengan menyebut Nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau karuniakan kepada kami&#8221; kemudian mereka berdua dikaruniai anak, niscaya ia (anak) itu tidak akan diganggu (dikuasai) oleh setan, dan setan tidak akan dapat untuk menguasainya.&#8221; </em>(Muttafaqun &#8216;alaih)</p>
<p>Tidak mengherankan bila setan memiliki andil besar dalam berbagai penyakit dan gangguan yang menimpa anak manusia. Yang demikian itu karena setan ingin mencelakakan mereka dengan segala cara yang dapat ia lakukan. Saking besarnya peran setan, sampai-sampai Nabi Ayyub tatkala ditimpa beraneka ragam penyakit, beliau berkata dalam doanya kepada Allah:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ ص 41</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.&#8221;</em> (Qs. Shaad 41)</p>
<p>Ulama&#8217; ahli tafsir menyebutkan bahwa dahulu Nabi Ayyub  ditimpa berbagai penyakit, sampai-sampai tidak ada di tubuhnya walau hanya sebesar ujung jarum yang utuh.</p>
<p>Dan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan tegas menyatakan bahwa salah satu penyebab kebinasaan umatnya ialah karena menjadi korban tusukan musuh-musuh mereka dari bangsa jin:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
فَنَاءُ أمتي بِالطَّعْنِ وَالطَّاعُونِ. فَقِيلَ يا رَسُولَ اللَّهِ: هذا الطَّعْنُ قد عَرَفْنَاهُ، فما الطَّاعُونُ؟ قال: وَخْزُ أَعْدَائِكُمْ مِنَ الْجِنِّ، وفي كُلٍّ شُهَدَاءُ. رواه أحمد والطبراني وصححه الألباني</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Kebinasaan umatku ialah dengan sebab tusukan dan tho&#8217;un. Para sahabat bertanya kepada beliau: Ya Rasulullah! Kalau tusukan, kami telah mengetahui maksudnya, akan tetapi apakah tho&#8217;un itu? Beliau menjawab: Tusukan yang tidak menembus yang dilakukan oleh musuh-musuh kalian dari kalangan jin, dan pada keduanya terdapat para syahid.&#8221;</em> (Riwayat Ahmad, At Thabrani dan dishahihkan oleh Al Albani)</p>
<p>Pada riwayat lain beliau lebih detail menjelaskan maksud dari tha&#8217;un:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
وَخْزُ أَعْدَائِكُمْ مِنَ الْجِنِّ،، غُدَّةٌ كَغُدَّةِ الإِبِلِ، تَخْرُجُ بِالآبَاطِ وَالمَرَاقِ. رواه الطبراني وحسنه الألباني</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Tha&#8217;un adalah tusukan yang tidak menembus yang dilakukan oleh musuh-musuh kalian dari bangsa jin, ia berupa daging tumbuh bagaikan daging tumbuh yang menimpa onta, ia keluar di ketiak, dan bagian bawah perut.&#8221; </em>(Riwayat At Thabrani dan dihasankan oleh Al Albani)</p>
<p>Bila anda renungkan dengan baik-baik pengertian tho&#8217;un di atas, niscaya anda berkesimpulan bahwa tha&#8217;un adalah penyakit yang menyerupai kangker kalaulah bukan kangker itu sendiri.</p>
<p>Bila demikian adanya, maka tidak ada imunisasi yang paling ampuh guna menanggulangi gangguan setan dari anak anda dibanding dzikir kepada Allah. Terutama sebelum mereka terlahir di dunia, tepatnya ketika anda hendak berhubungan dengan istri anda.</p>
<p>Walau demikian halnya, betapa banyak dari kita yang belum memahami akan keutamaan basmalah sebelum berjima&#8217;, atau menganggapnya sebagai hal yang merepotkan belaka. Bahkan betapa banyak orang yang telah memahaminya, akan tetapi ketika hendak berjima&#8217;, ia lupa untuk mengucapkannya. Tidak heran bila setan dengan leluasa mengganggu anak keturunan kita, dengan berbagai macam bentuk gangguannya.</p>
<p>Ibnu Hajar berkata: &#8220;Banyak dari orang yang telah memahami keutamaan bacaan dzikir ini, akan tetapi ia lalai darinya ketika hendak berjima&#8217;, dan sebagian dari yang ingat akan bacaan doa ini serta mengucapkannya tidak dikaruniai anak. <sub>(1)</sub></p>
<p>Bila Ibnu Hajar mengangkat permasalahan lupa yang sering menimpa pasangan suami istri ketika hendak berjima&#8217;, maka dizaman kita ada fenomena lain yang lebih pahit, yaitu merajalelanya hubungan haram, sehingga tidak heran, bila setan dengan mudah menimpakan godaan dan gangguannya kepada generasi muda kita, yang banyak dari mereka adalah hasil dari hubungan yang dimurkai Allah, alias kumpul kebo. Laa haula walaa quwwata illa billah.</p>
<p>Ini adalah salah satu imunisasi nabawi yang hingga saat ini dan mungkin hingga hari qiyamat tidak dipahami dan tidak dapat dicapai oleh berbagai kemajuan ilmu medis barat. Dan imunisasi nabawi ini merupakan salah satu bukti bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan paling bermanfaat bagi umat manusia. Oleh karenanya, saya katakan: bangkitlah umatku! Mari kita pelajari ilmu agama kita dalam segala aspeknya, baik yang berkaitan dengan hukum halal haram atau lainnya. Dengan demikian, kita tidak mudah silau dengan keberhasilan sesat bangsa dan umat lain. Selamat berjuang menggapai kejayaan di dunia dan akhirat.</p>
<p><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong>B. Menutup bejana dan tempat menyimpan makanan dan minuman</strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p>Bila orang-orang yang ilmu dan jiwanya telah mengkultuskan peradaban barat biasanya beranggapan bahwa masyarakat baratlah kiblat kebersihan dan kesehatan,. maka hal itu tidaklah layak dilakukan oleh orang yang dihatinya masih tersisa setitik keimanan.</p>
<p>Yang demikian itu, dikarenakan agama kita, jauh-jauh hari sebelum bangsa barat mengenal kebersihan, telah mengajarkan berbagai syari&#8217;at yang hingga saat ini belum bisa ditandingi oleh teori atau peradaban apapun.</p>
<p>Diantara tindakan prefentif yang diajarkan Islam guna menjaga kesehatan umat manusia ialah dengan menjaga makanan dan minuman mereka dari berbagai kotoran dan mikro organik yang dapat mengancam kesehatan. Agar makanan dan minuman tetap bersih dan higenis, Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menutupinya, dan tidak membiarkannya terbuka, terkena udara bebas dan berbagai hal lainnya. Tindakan ini adalah langkah awal yang sangat penting dari upaya menjaga kesehatan dan menangkal penyakit. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
غَطُّوا الْإِنَاءَ، وَأَوْكُوا السِّقَاءَ، وَأَغْلِقُوا الْبَابَ، وأطفؤا السِّرَاجَ، فإن الشَّيْطَانَ لَا يَحُلُّ سِقَاءً، ولا يَفْتَحُ بَابًا، ولا يَكْشِفُ إِنَاءً، فَإِنْ لم يَجِدْ أحدكم إلا أَنْ يَعْرُضَ على إِنَائِهِ عُودًا وَيَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ، فَلْيَفْعَلْ. رواه مسلم</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Tutuplah bejana, ikatlah geribah (tempat menyimpan air yang terbuat dari kulit-pen), tutuplah pintu, matikanlah lentera (lampu), karena sesungguhnya setan tidaklah mampu mengurai geribah yang terikat, tidak dapat membuka pintu, dan tidak juga dapat menyingkap bejanan (yang tertutup). Bila engkau tidak mendapatkan (tutup) kecuali hanya dengan melintangkan diatas bejananya sebatang ranting, dan menyebut nama Allah, hendaknya ia lakukan.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Pada riwayat lain:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فإن في السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فيها وَبَاءٌ، لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍ ليس عليه غِطَاءٌ، أو سِقَاءٍ ليس عليه وِكَاءٌ، إلاَّ نَزَلَ فيه من ذلك الْوَبَاءِ. رواه مسلم</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Tutuplah bejana, dan ikatlah geribah, karena pada setiap tahun ada satu malam (hari) yang padanya turun wabah. Tidaklah wabah itu melalui bejana yang tidak bertutup, atau geribah yang tidak bertali, melainkan wabah itu akan masuk ke dalamnya.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Dari mencermati hadits di atas, dapat dipahami bahwa menutup rapat makanan dan minuman, terlebih-lebih bila disertai dengan bacaan basmalah, dapat menanggulangi dua penyebab utama bagi segala penyakit:</p>
<ol>
<li>Ulah dan kejahatan setan.</li>
<li> Wabah penyakit yang turn dan menyebar melalui media udara.</li>
</ol>
<p>Imam An Nawawi berkata: &#8220;Para ulama&#8217; menyebutkan beberapa faedah dari perintah menutup bejana dan geribah, diantaranya kedua faedah yang ditegaskan pada hadits-hadits ini, yaitu:</p>
<ol>
<li>Menjaganya (makanan dan minuman) dari setan, karena setan tidak dapat menyingkap tutup bejana, dan tidak dapat mengurai ikatan geribah.</li>
<li>Menjaganya dari wabah yang turun pada satu malam di setiap tahun.</li>
<li> Faedah ketiga: menjaganya dari terkena najis dan kotoran.</li>
<li> Keempat: menjaganya dari berbagai serangga dan binatang melata, karena bisa saja serangga jatuh ke dalam bejana atau geribah, lalu ia meminumnya, sedangkan ia tidak menyadari keberadaan serangga tersebut, atau ia meminumnya pada malam hari, (sehingga ia tidak melihatnya-pen) akibatnya ia terganggu dengan binatang tersebut.&#8221;<sub>(2)</sub></li>
</ol>
<p>Imam An Nawawi juga menjelaskan bahwa syari&#8217;at menutup bejana dan mengikat geribah ini bukan hanya berlaku pada malam hari, akan tetapi juga berlaku pada siang hari, berdasarkan keumuman teks hadits di atas.</p>
<p>Syari&#8217;at ini juga menguatkan paparan saya sebelumnya, bahwa lalai dari berdzikir kepada Allah adalah biang berbagai penyakit, karena dengan menyebut nama Allah ketika menutup makanan dan minuman, berarti makanan dan miuman kita terhindar dari ulah setan dan wabah yang turun.</p>
<p>Hikmah pertama dan kedua yang disebutkan pada hadits di atas, yaitu menjaga makanan dan minuman dari wabah yang turun pada satu hari/malam di setiap tahun, merupakan hikmah yang hingga saat ini tidak diketahui dan ditemukan oleh ilmu kedokteran barat. Dan hikmah ini hanya dapat diketahui melalui wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Sebagaimana hadits ini merupakah isyarat bahwa wabah penyakit, hanya terjadi pada masa-masa tertentu saja, dan tidak terjadi pada sepanjang tahun. Dan ini adalah salah satu fakta yang telah dibuktikan dalam dunia medis. Kita semua mengetahui bahwa berbagai wabah yang ada di masyarakat, kebanyakannya terjadi pasa masa-masa tertentu saja, dimana pada saat itu berbagai virus dan bakteri penyebab penyakit berkembang biak, lalu menyerang masyarakat.</p>
<p>Kedua hikmah ini merupakan secercah rahasia ilmu kedokteran islam yang tidak atau belum kita kembangkan dan sosialisasikan ke masyarakat. Sebagaimana hal ini merupakan salah satu bentuk imunisasi syariat yang belum atau bahkan tidak kita kembangkan dan sosialisasikan kepada umat manusia.</p>
<p><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong>C. Makan tujuh biji kurma Ajwah.</strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p>Diantara tindakan prefentik yang diajarkan Islam untuk mencegah berbagai penyakit sebelum datang ialah dengan mengkonsumsi tujuh biji buah kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah di waktu pagi. Mengkonsumsi tujuh biji kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah di waktu pagi, dapat mencegah serangan pengaruh sihir dan racun. Yang demikian ini berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
من تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتِ عَجْوَةٍ، لم يَضُرَّهُ في ذلك الْيَوْمِ سُمٌّ ولا سِحْرٌ.متفق عليه</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Barang siapa yang setiap pagi hari makan tujuh biji buah kurma ajwa, niscaya pada hari itu ia tidak akan terganggu oleh racun atau sihir.&#8221;</em> (Muttafaqun &#8216;alaih)</p>
<p>Pada riwayat lain:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
من أَكَلَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِمَّا بين لَابَتَيْهَا حين يُصْبِحُ لم يَضُرَّهُ سُمٌّ حتى يُمْسِيَ. رواه مسلم</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Barang siapa pada pagi hari, makan tujuh biji kurma yang dihasilkan diantara kedua hamparan Madinah, niscaya ia tidak akan terganggu oleh racun hingga sore hari.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Dengan jelas Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebutkan bahwa manfaat mengkonsumsi tujuh biji kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah pada pagi hari adalah untuk menangkal pengaruh sihir dan racun. Sehingga manfaat kurma ajwah ini sama halnya dengan manfaat yang diperoleh dari imunisasi.</p>
<p>Berikut saya nukilkan fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em> tentang hal ini:</p>
<p>Pertanyaan:</p>
<p>Apa hukumnya berobat dengan imunisasi sebelum datangnya penyakit?</p>
<p>Jawaban:</p>
<p>Tidak mengapa berobat dengan imunisasi bila kawatir terkena suatu penyakit, disebabkan adanya wabah, atau sebab lainnya yang dikawatirkan menjadi penyebab datangnya penyakit. Sehingga tidak mengapa, anda minum obat guna menangkal penyakit yang dikawatirkan.</p>
<p>Hal ini berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pada suatu hadits yang shahih:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
من تصبح بسبع تمرات من تمر المدينة لم يضره سحر ولا سم</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Barang siapa yang pada waktu pagi makan tujuh biji kurma madinah, niscaya ia tidak akan terganggu oleh sihir, tidak oleh racun.&#8221; </em>Hadits ini termasuk upaya penanggulangan penyakit sebelum terjadi.</p>
<p>Demikian juga halnya orang yang kawatir terhadap serangan suatu penyakit, dan ia diberi imunisasi anti wabah yang sedang menyerang di negri tersebut atau di negri manapun. Upaya itu tidak mengapa, sebagai upaya pertahanan. sebagaimana halnya penyakit yang telah menimpa diobati, demikian juga halnya penyakit yang dikawatirkan akan menyerang, boleh ditanggulangi dengan pengobatan.</p>
<p>Akan tetapi tidak dibenarkan untuk menggantungkan ajimat, penangkal penyakit, atau jin, atau &#8216;ain, dikarenakan itu semua dilarang oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah menjelaskan bahwa perbuatan itu termasuk syirik ashghar (kecil), karena itu, hendaknya kita waspada.&#8221; <sub>(3)</sub></p>
<p><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong>D. Banyak beristighfar</strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p>Bila pada pemaparan di atas telah jelas bahwa kemaksiatan kepada Allah adalah biang datangnya berbagai musibah dan wabah penyakit, maka dapat dipahami bahwa istighfar dan mohon ampunan kepada-Nya adalah penangkal dan penawar berbagai wabah dan penyakit.Bukan hanya menangkal penyakit, akan tetapi istighfar juga akan mendatangkan kedamaian, kebahagian, keberkahan dan kemudahan dalam hidup.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman kepada umat Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى هود 3</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Dan hendaknya kamu meminta ampun kepada Tuanmu dan bertaubat kepada-Nya (Jika kamu mengerjakan yang demikian) niscaya Allah akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai pada waktu yang telah ditentukan.&#8221;</em> (Qs. Huud:3)</p>
<p>Syeikh Muhammad Amin As Syinqithy menafsirkan ayat ini dengan berkata:</p>
<p>&#8220;Pendapat yang paling kuat tentang maksud kenikmatan yang baik ialah: rizqi yang melimpah, hidup yang lapang, dan keselamatan di dunia, dan yang dimaksud dengan (waktu yang telah ditentukan) adalah kematian.&#8221; <sub>(4)</sub></p>
<p>Allah Ta&#8217;ala mengisahkan perihal Nabi Hud <em>&#8216;alaihissalaam</em> bersama kaum &#8216;Aad. Dikisahkan, kaum &#8216;Aad adalah satu kaum yang terkenal memiliki kekuatan yang luar biasa.</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ  فصلت 15</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Kaum &#8216;Aad berkata:&#8221;Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami&#8221; Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.&#8221;</em> (Qs. Fusshilat:15)</p>
<p>Walau demikian, andai mereka beriman kepada Allah dan mensucikan jiwa mereka suci dari berbagai noda kemaksiatan dengan beristighfar, niscaya kekuatan mereka menjadi berlipat ganda:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ توبوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السمآء عَلَيْكُمْ مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إلى قُوَّتِكُمْ  هود : 52</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Wahai kaumku, beristighfarlah kamu kepada Tuhanmu, lalu bertaubatlah (Kembalilah) kepada-Nya, niscaya Allah akan menurunkan hujan yang sangat lebat, dan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu.&#8221;</em> (Qs. Huud:52)</p>
<p>Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam kitab tafsirnya bahwa Abul Bilaad merasa keheranan tatkala membaca firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ  الشورى 30</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri.&#8221;</em> (Qs. As Syura 30)</p>
<p>Ia bertanya-tanya, bagaimana penerapan ayat ini pada dirinya, yang telah menderita buta mata sejak ia dilahirkan. Karena rasa herannya inilah ia bertanya kepada Al &#8216;Ala&#8217; bin Bader: &#8220;Bagaimana penafsiran firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ  الشورى 30</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p>&#8220;Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri,&#8221; padahal aku ditimpa kebutaan sejak aku masih bayi? Maka Al &#8216;Ala&#8217; menjawab: &#8220;Itu adalah akibat dari dosa kedua orang tuamu.&#8221;<sub>(5)</sub></p>
<p>Inilah imunisasi nabawi sejati yang sepantasnya digalakkan sejak dini, agar kita menjadi bangsa yang perkasa dan berjaya. Dan selanjutnya, generasi penerus kita tidak turut merasakan sebagian dari kesialan berbagai amal kemaksiatan kita.<br />
Renungkan dan pikirkan baik-baik saudaraku! Apakah anda sampai hati untuk mewariskan kesialan amal maksiat anda kepada putra-putri anda?</p>
<p>Saya yakin anda adalah orang tua yang penyayang, sehingga andapun pasti terpanggil untuk menjauhkan warisal sial ini dari putra-putri anda. Tidak heran bila andapun benyak beristighfar, dan berjuang sekuat tenaga untuk mensucikan diri anda</p>
<p><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong>E. Memohonkan Perlindungan Untuk Anak-anak.</strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p>Diantara metode imunisasi nabawi yang tidak diketahui oleh banyak umat Islam dan sering dilalaikan oleh orang yang telah mengetahuinya ialah dengan memohonkan perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita dari gangguan setan, binatang berbisa dan pengaruh &#8216;ain keji (mata keji). Padahal metode ini telah diajarkan semenjak zaman Nabi Ibrahin<em> &#8216;alaihissalam</em>, dan diamalkan oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
عَنِ ابن عَبَّاسٍ أن رَسُولَ اللَّهِ كان يُعَوِّذُ حَسَناً وَحُسَيْناً يقول (أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ من كل شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كل عَيْنٍ لاَمَّةٍ) وكان يقول: (كان إِبْرَاهِيمُ أبي يُعَوِّذُ بِهِمَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ). رواه أحمد وأبو داود والنسائي وصححه الألباني.</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu &#8216;anhu bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memohonkan perlindungan untuk cucunya Hasan dan Husain dengan berdoa: &#8220;Aku memohonkan perlindungan untukmu berdua dengan Kalimat-kalimat Allah yang Maha Sempurna dari setiap setan, binatang berbisa yang mematikan, dan dari setiap (pengaruh) mata yang mendatang kerusakan.&#8221; </em>(Riwayat Ahmad, Abu Dawud, An Nasai dan dishahihkan oleh Al Albani)</p>
<p>Ini adalah salah satu imunisasi nabawi yang masih belum banyak diketahui oleh umat Islam, dan sering dilalaikan oleh orang yang telah mengetahuinya. Sungguh demi Allah, bila imunisasi nabawi ini kita amalkan dengan penuh keimanan dan penghayatan, niscaya anak-anak kita terlindung dari berbagai penyakit dan wabah.</p>
<p>Wahai saudaraku seiman dan seakidah! Cobalah anda bertanya kepada hati nurani sendiri: Percayakah anda dengan imunisasi nabawi ini?</p>
<p>Amalkanlah wahai saudaraku, niscaya Allah akan melindungi anak-anak anda dari berbagai petaka dan musibah.</p>
<p><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong>F. Tidak berlebih-lebihan Dalam Hal Makanan dan Minuman</strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p>Diantara syari&#8217;at Islam yang sejak dahulu kala terbukti manjur untuk menjaga kesehatan dan mencegah datangnya berbagai penyakit ialah menempuh hidup sederhana. Tidak berlebih-lebihan dalam hal makan dan minum.</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
الْمِقْدَامَ بن معدي كرب الكندي قال سمعت رَسُولَ اللَّهِ  يقول ما مَلأَ بن آدَمَ وِعَاءً شَرًّا من بَطْنٍ حَسْبُ بن آدَمَ أُكُلاَتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فان كان لاَ مَحَالَةَ فَثُلُثُ طَعَامٍ وَثُلُثُ شَرَابٍ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ رواه أحمد والترمذي وصححه الألباني</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Sahabat Al Miqdan bin Ma&#8217;dykareb Al Kindi mengisahkan: Aku pernah mendengar Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em><em> bersabda: Tidaklah seorang anak Adam memenuhi suatu kantung yang lebih buruk dibanding perutnya. Bila tidak ada pilihan, maka cukuplah baginya sepertiga dari perutnya untuk makanan, sepertiga lainnya untuk minuman dan sepertiga lainnya untuk nafasnya.&#8221;</em> (Riwayat Ahmad, At Tirmizy, An Nasai dan oleh Al Albani dinyatakan sebagai hadits shahih)</p>
<p>Ibnul Qayyim berkata: &#8220;Ketahuilah bahwa makan itu ada  tiga tingkatan:</p>
<p>A. Kebutuhan.<br />
B. Kecukupan.<br />
C. Kelebihan.</p>
<p>Pada hadits di atas, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengabarkan bahwa hendaknya anda mencukupkan diri dengan beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggung anda. Dengan demikian anda tidak menjadi loyo dan tidak pula lemas. Bila anda masih merasa perlu untuk makan lebih banyak, maka hendaknya anda makan sepertiga dari daya tampung perut anda. Dengan demikian anda menyisakan sepertiga dari ruang perut anda untuk air minum dan sepertiga lainnya untuk nafas anda. Pembagian ini sangat berguna bagi kesehatan badan dan jiwa anda. Karena bila perut anda dipenuhi oleh makanan, maka tidak tersisa lagi ruang untuk minuman. Sehingga bila anda minum, maka pernapasan andapun menjadi sesak. Bila demikian adanya, anda menjadi mudah lelah dan sesak napas, bagaikan orang yang memikul beban terlalu berat. Ditambah lagi perut kenyang memiliki pengaruh buruk terhadap kepribadaian dan jiwa anda. Anda menjadi malas beribadah, dan dorongan birahi anda menguat. Pendek kata, perut yang senantiasa penuh itu berakibat buruk bagi kesehatan raga dan jiwa.&#8221; <sub>(6)</sub></p>
<p>Al Munawi juga menjelaskan hadits ini dengan berkata : &#8220;Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menganggap perut orang yang makan hingga penuh sebagai kantong yang paling buruk, karena ia telah menggunakan perutnya tidak pada tempatnya. Perut manusia diciptakan untuk menegakkan tulang punggung karena mendapatkan asupan gizi yang cukup dari makanan yang ia makan. Sedangkan bila ia memenuhi perutnya, maka hal ini berdampak merusak agama dan dunianya. Penjelasannya sebagai berikut: Tidaklah seseorang biasa memenuhi perutnya, kecuali bila ia telah dikuasai oleh sifat keserakahan dan ambisi dunia. Dan kedua perangai ini berakibat buruk bagi pelakunya. Rasa kenyang yang berkepanjangan, menjerumuskan palakunya ke dalam kesesatan dan menjadikannya merasa malas. Akibatnya ia selalu malas untuk beribadah, dan tubuhnya dipenuhi oleh timbunan zat-zat yang tidak ia butuhkan. Bila telah demikian, ia menjadi mudah marah, dikuasai syahwat birahi, dan ambisinya menjadi meluap, sehingga iapun terobsesi untuk menumpuk harta benda yang tidak ia perlukan.&#8221;<sub>(7)</sub></p>
<p>Saudaraku! Diantara ketentuan syari&#8217;at Islam dalam urusan makan dan minum adalah hendaknya anda tidak berlebih-lebihan dalam keduanya. Segala yang anda suka, anda makan atau minum, segala yang bisa anda beli maka anda konsumsi, dan segala yang ditawarkan oleh pedagang, maka anda incipi. Sudah barang tentu sikap seperti ini adalah cerminan nyata dari ambisi makan dan minum yang berlebihan atau disebut dengan isrof.</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
عَنْ عبد الله بن عمرو بن العاص  أَنَّ رَسُولَ اللهِ  قَالَ : كُلُوا، وَاشْرَبُوا، وَتَصَدَّقُوا، وَالْبَسُوا، غَيْرَ مَخِيلَةٍ، وَلاَ سَرَفٍ. رواه أحمد والنسائي وغيره وحسنه الألباني.</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p>Sahabat Abdullah bin Amer bin Al &#8216;Ash, menceritakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p><em> &#8220;Makan,. Minum, bersedekah dan berpakaianlah asal tidak engkau tidak bersikap angkuh dan berlebih-lebihan.</em>&#8221; (Riwayat Ahmad, An Nasai dan oleh Al Albani dinyatakan sebagai hadits hasan)</p>
<p>Pada suatu hari, sahabat Umar bin Khatthab berkata: &#8220;Janganlah engkau makan hingga merasa kekenyangan, karena kekenyangan menjadikanmu malas</p>
<p>Sebagian ulama&#8217; berkata:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
إنْ كُنْتَ بَطِنًا فَعُدَّ نَفْسَك زَمِنًا حتَّى تَخْمِصَ</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p>&#8220;Bila engkau memiliki perut yang gendut, maka anggaplah bahwa dirimu sedang menderita penyakit menahun, hingga perutmu kembali mengecil.&#8221; <sub>(8)</sub></p>
<p>Ibnul Qayyim berkata: &#8220;Zat makanan yang tertimbun dalam tubuh menyebabkan banyak petaka, diantaranya : mendorong anggota tubuh untuk berbuat maksiat, dan merasa malas dari beribadah. Kedua hal ini cukup sebagai dampak negatif yang besar bagi anda. Betapa banyak kemaksiatan yang disebabkan oleh rasa kenyang, dan betapa banyak amal ketaatan yang terhalangi oleh rasa kenyang? Karenanya, orang yang terlindung dari efek buruk perutnya, berarti ia telah terlindung dari petaka yang besar. Ditambah lagi, setan semakin leluasa menguasai diri anda, tatkala anda mengisi perut anda dengan makanan hingga penuh. Tidak heran, bila ulama&#8217; terdahulu berpetuah:&#8221;Sempitkanlah jalur setan dengan berpuasa.&#8221; Dan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
ما مَلأَ بن آدَمَ وِعَاءً شَرًّا من بَطْنٍ</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p>&#8220;Tidaklah seorang anak Adam memenuhi suatu kantung yang lebih buruk dibanding perutnya&#8221;.</p>
<p>Andailah perut penuh dengan makanan itu tidak berdampak selain menjadikan anda lalai walau hanya sesat, niscaya setan akan bersemangat menyeru anda untuk melakukannya, agar berkesempatan menggiring anda kemanapun ia suka. Karena bila perut anda senantiasa kenyang, maka jiwa anda akan agresif, dan syahwat birahi andapun berkobar. Sedangkan bila perut anda terbiasa lapar, niscaya jiwa anda menjadi tenang, khusyu&#8217; dan tunduk kepada anda.&#8221; <sub>(9)</sub></p>
<p>Pada kesempatan lain, beliau berkata : &#8220;Berbagai penyakit fisik terjadi akibat dari zat makanan yang tertimbun dalam badan anda. Akibatnya timbunan makanan itu mengganggu gerak berbagai organ badan anda. Inilah kebanyakan penyakit yang diderita oleh masyarakat. Semua itu terjadi karena mereka terbiasa mengkonsumsi makanan padahal makanan yang ia konsumsi sebelumnya belum sempenuhnya dicerna oleh organ pencernaannya. Keadaan ini diperparah oleh:</p>
<p>1-Mereka mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang melebihi kebutuhan badannya.<br />
2-Mereka banyak mengkonsumsi makanan yang sulit dicerna.<br />
3-Mereka mengkonsumsi beraneka ragam jenis makanan yang terbuat dari bahan-bahan yang beraneka ragam pula.</p>
<p>Bila anda memenuhi perut anda dengan berbagai jenis makanan ini, dan itu telah menjadi gaya hidup anda, niscaya kebiasaan buruk ini menyebabkan anda menderita beraneka ragam penyakit pula. Dari berbagai penyakit yang anda derita, ada yang dengan cepat disembuhkan dan ada pula yang sulit diobati. Akan tetapi bila anda menempuh hidup sederhana, mengkonsumsi makanan seperlunya, dan makanan yang anda konsumsipun seimbang dalam kadar dan jenisnya, maka badan anda lebih sehat dari pada mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak.&#8221; <sub>(10)</sub></p>
<p>Tidak mengherankan bila diantara metode yang dicontohkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah tidak makan sambil duduk bersila. Karena makan dengan duduk bersila menjadikan anda hanyut dan tidak kunjung merasa puas atau kenyang.</p>
<p>Ketika anda duduk bersila, maka lambung anda akan terbuka selebar-lebarnya, anda tidak segera merasa kenyang, dan akhirnya andapun makan dengan lahap serta dalam jumlah yang banyak.</p>
<p style="text-align:right;"><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
عن أَبي جُحَيْفَةَ  يقول قال رسول اللَّهِ  : (لا آكُلُ مُتَّكِئًا) رواه البخاري</span></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p>Sahabat Abu Juhaifah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> mengisahkan: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: &#8220;Aku tidak makan sambil duduk bersandar (bersila).&#8221;  (HR. Imam Bukhari)</p>
<p>Imam Al Khattabi menjelaskan hadits ini dengan berkata: Masyarakat awam mengira bahwa yang dimaksud duduk bersandar ialah makan sambil duduk bersandar ke sebelah bagian badan. Padahal tidak demikian halnya. Yang dimaksud adalah duduk mantap dengan bersila. Dengan demikian makna hadits ini, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengabarkan bahwa ia tidak makan dengan duduk bertumpu pada alas yang dibawahnya, layaknya orang yang hendak makan banyak. Karena sesungguhnya aku makan hanya sekedar untuk bekal hidup, sehingga aku duduk layaknya orang yang ingin segera bangkit.&#8221;<sub>(11)</sub></p>
<p>Ibnu Jarir At Thobari berkata: &#8220;Bila anda bertanya: Apakah ada batasan tertentu berkaitan dengan nafkah yang dibenarkan dalam Syari&#8217;at? Maka jawabannya: Ya, ada batasan nafkah yang sesaui dan dibenarkan dalam masing-masing hal berikut: makanan, minuman, pakaian, sedekah, amal kebajikan dan lainnya . Saya tidak suka memperpanjang kitab ini dengan menyebutkan batasan masing-masing. Hanya saja berdasarkan penjelasan di atas, yaitu: bila anda mengkonsumsi makanan melebihi batas kebutuhan anda, sehingga badan anda menjadi lemah, tenaga anda luluh, anda tersibukkan dari beribadah kepada Allah dan menunaikan kewajiban, maka itu berati anda telah berlebih-lebihan.&#8221; <sub>(12)</sub></p>
<p>Beberapa syari&#8217;at di atas, hanyalah setetes dari lautan syariat yang bila anda amalkan dengan penuh keimanan dapat mendatangkan keberkahan dalam hidup anda. Bukan hanya dalam hal kesehatan raga anda, akan tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan anda, baik di dunia ataupun di akhirat.</p>
<p>Wallahu Ta&#8217;ala a&#8217;alam</p>
<p>Footnotes:</p>
<p>(1) <em>Fathul Bari</em> oleh Ibnu Hajar 9/263.<br />
(2) <em>Syarah Muslim</em> oleh Imam An Nawawi 13/183.<br />
(3) <em>Al Fatawa Al Mut&#8217;alliqah Bit Thib Wa Ahkamil Mardho</em> 203.<br />
(4) <em>Adwaul Bayan</em> 3/12.<br />
(5) <em>Tafsir Ibnu Abi Hatim</em> 10/3279 &amp; <em>Tafsir Al Baghowi</em> 7/355.<br />
(6) <em>Zadul Ma&#8217;ad</em> Oleh Ibnul Qayyim 4/16.<br />
(7) <em>Faidhul Qadir</em>, oleh Al Munawi 5/502.<br />
(8) <em>Jami&#8217; Al Ulum Wa Al Hikam </em>oleh Ibnu Rajab Al Hambali 426.<br />
(9) <em>Bada&#8217;iul Fawaid</em> oleh Ibnul Qayyim 2/498.<br />
(10) <em>Zadul Ma&#8217;ad</em> Oleh Ibnul Qayyim 4/16<br />
(11) Demikian Ibnu Hajar Al Asqalani menukilkan perkataan Al Khatthabi.<br />
(12) <em>Tafsir At Thobari</em> 19/300-301.</p>
<p>Sumber: pengusahamuslim.com [jazahumullahu khairan]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudahtahukahanda.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudahtahukahanda.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudahtahukahanda.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudahtahukahanda.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=156&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/03/08/imunisasi-nabawi-apakah-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/df6032fe4c23df8a981913582c37444c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatheema</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untukmu Anak Shalih (2)</title>
		<link>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/03/01/untukku-anak-shalih-2/</link>
		<comments>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/03/01/untukku-anak-shalih-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 23:44:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Fathimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiyatul aulad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudahtahukahanda.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc hafidzahullah 8. Tidak Disiplin dan Kurang Tertib Ketidakdisiplinan dan kurang tertibnya orang tua dalam mendidik anak akan membuat anak juga tidak disiplin dan tertib dalam menjalani hidupnya. Orangtua dan para pendidik harus menanamkan hidup disiplin dan tertib sejak usia dini sehingga anak terbiasa hidup disiplin dan tertib dalam menunaikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=152&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc <em>hafidzahullah</em></strong></p>
<p><strong>8. Tidak Disiplin dan Kurang Tertib</strong></p>
<p>Ketidakdisiplinan dan kurang tertibnya orang tua dalam mendidik anak akan membuat anak juga tidak disiplin dan tertib dalam menjalani hidupnya. Orangtua dan para pendidik harus menanamkan hidup disiplin dan tertib sejak usia dini sehingga anak terbiasa hidup disiplin dan tertib dalam menunaikan tugas-tugas harian, terutama yang terkait dengan kewajiban agama dan ibadah kepada Allah, tugas rumah dan tugas sekolahan. Anak harus dilatih untuk membiasakan shalat fardhu tepat waktu dan berjemaah di masjid (bagi anak laki-laki), melatih diri untuk berpuasa, serta menaati perintah orangtua dalam kebaikan, bukan dalam kemaksiatan.</p>
<p>Setiap orangtua atau pendidik hendaknya membuatkan jadwal rutin harian, yang berkaitan dengan ibadah, tugas harian maupun tugas sekolah, dan orangtua harus senantiasa mengontrol dan mengawasinya jangan sampai ada yang terlewatkan.</p>
<p><strong>9. Hanya Pendidikan Formal</strong><br />
Sebagian orangtua sudah merasa cukup mendidik anak bila sudah memberi mereka pendidikan formal atau kursus bimbingan belajar. Padahal, kebanyakan lembaga tersebut mengajarkan ilmu keduniaan saja, tanpa memedulikan kebutuhan prinsipil seperti pendidikan akidah, pembinaan akhlak dan pendidikan yang berbasis pada kemandirian. Alhasil, lulus dari pendidikan formal, anak tidak bisa menghadapi realitas dan persaingan hidup. Sebab, kebutuhan ilmu sang anak tidak dapat dipenuhi hanya melalui madrasah saja.<span id="more-152"></span></p>
<p>Dengan kata lain, setiap anak harus membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan realitas hidup, perkembangan teknologi, bisnis, informasi, komunikasi, situasi terkini, dunia tumbuhan dan binatang. Dan untuk itu, orangtua haruslah aktif dan selektif dalam memilihkan bacaan, yaitu memilihkan bacaan yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Karenanya, pendidikan non formal, terutama pendidikan agama mutlak diperlukan, karena dengan pendidikan inilah si anak akan dapat menyaring, mana ilmu teknologi, bisnis, komunikasi, dan segala hal yang bermanfaat atau justru berpotensi merusak akidah maupun akhlak seseorang.</p>
<p><strong>10. Kurang Mengenalkan Tanggung Jawab</strong><br />
Orangtua harus menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi pada anak-anaknya akan tugas dan kewajiban mereka, baik yang terkait dengan urusan agama maupun dunia. Masing-masing harus merasa bahwa tugas sekecil apa pun merupakan amanah yang harus diemban dan beban tanggung jawab yang harus dipikul sepenuh kemampuan. Anak harus dilatih untuk lebih dahulu menunaikan kewajiban dari pada menuntut haknya baik hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun kepada sesama manusia terutama kepada orangtua, sanak-kerabat dan teman-temannya.</p>
<p>Orangtua harus mengenalkan kepada anak-anaknya tanggung jawab kepada agama, diri, dan lingkungannya. Bahkan anak harus dikenalkan pada kewajiban zakat, infak dan sedekah, menyantuni anak yatim dan fakir-miskin agar tumbuh rasa tanggung jawab dan sensitivitasnya pada agama dan lingkungan, baik lingkungan rumah maupun sekolah.</p>
<p><strong>11. Khawatir yang Berlebihan</strong><br />
Perasaan takut terhadap keselamatan dan rasa khawatir terhadap masa depan anak merupakan sifat yang wajar ada pada setiap orangtua. Namun, perasaan itu akan berubah menjadi bahaya bila berlebihan dan berubah menjadi was-was akan keselamatan anaknya, bersikap bakhil karena takut beban biaya hidup anaknya tidak terpenuhi, dan mencintai anak secara berlebihan.</p>
<p><img title="Selebihnya..." src="http://parentingmuslim.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Ketakutan seperti itu hanya akan membuat hidup terbebani, tidak percaya dengan takdir, dan mengurangi ketawakalannya kepada Allah. Yang ada nanti hanya perasaan tidak tenang dan khawatir terhadap nasib anaknya. Inilah yang kadang membuat orangtua tidak tega saat melepas anaknya menempuh pendidikan boarding school (pondok) di pesantren. Padahal, setiap orangtua harus menyadari bahwa suatu saat nanti anak akan berpisah dengannya, baik untuk mencari ilmu atau mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarganya setelah menikah kelak.</p>
<p><strong>12.  Kurang Sabar dalam Menerima Hasil</strong><br />
Bisa jadi orangtua sudah punya target-target tertentu atas pendidikan anaknya, atau boleh jadi orangtua telah mendidik anaknya untuk mengganti jabatannya atau memegang perusahaannya setelah  dia meninggal. Namun, ternyata sang anak mengecewakannya. Bukan karena ia nakal dan membangkang, melainkan karena bakat sang anak tidak sejalan dengan keinginan dan harapan orangtuanya. Akhirnya, kita dengar orang tua mencerca anaknya, “Tinggal belajar saja kok tidak bisa. Makanya, belajar yang betul!”</p>
<p>Padahal, kita semua sadar bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan kecerdasan dan kemampuan yang berbeda kepada setiap hamba-Nya. Seharusnya orang tua bersikap bijak.  Kewajiban orangtua hanyalah berusaha semaksimal mungkin mengarahkan dan membina anak-anaknya, sedangkan hasilnya, Allah Maha Adil dan Maha Tahu apa yang tetbaik bagi hamba-Nya. Jadi, kenapa orangtua harus kecewa dengan hasil yang tidak sesuai keinginannya?  Bukankah lebih baik mengutamakan kesabaran dan keistikomahan dalam mendidik dan mengarahkan anak, daripada terpaku pada hasil akhirnya?</p>
<p><strong>13.  Curiga Berlebihan</strong><br />
Orang tua harus bersikap terbuka dan memberi kepercayaan kepada anak. Sikap ini akan memperlancar komunikasi dan interaksi dengan anak maupun anggota keluarga yang lain.  Keterbukaan dan kepercayaan juga akan membuat anak mencintai orangtuanya secara tulus dan memandang penuh hormat dan kasih pada keduanya. Sebaliknya, bila orang tua mudah menuduh<br />
tanpa bukti, mencurigai setiap gerak-gerik anak tanpa alasan dan menganggap anak berkhianat kepada orangtuanya, perasaan anak akan tercabik-cabik, kekecewaan tumbuh, dan kemarahan anak kepada orangtua akan tersulut. Apalagi bila anak merasa apa yang dituduhkan kepadanya tidak benar.</p>
<p>Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dalam menilai anak-anaknya. Jangan mudah curiga dan menuduh anak dengan sesuatu tanpa alasan dan bukti hanya karena kurang cinta atau cemburu. Orang tua juga tidak boleh meremehkan kemampuan dan kelebihan anak dengan menganggapnya masih terlalu kecil.</p>
<p>Di pihak lain, sang anak pun tak boleh mudah memvonis orangtuanya tidak sayang dan membencinya. Seharusnya seorang anak bersabar menghadapi sikap orang tua yang kurang berkenan dan sebaiknya mencari informasi yang sebenarnya kenapa orangtuanya bersikap demikian, dan menghilangkan dendam kepada orangtua karena sikapnya tersebut. Sebab, dendam yang dibiarkan bisa memutus hubungan silaturahim. Maka, pupuklah sikap saling percaya,  tumbuhkan empati, dan sikap terbuka dalam menghadapi setiap masalah.</p>
<p><strong>14. Menjauhkan Anak dari Orang Shalih</strong><br />
Kalau tidak bergaul dengan ulama atau orang shalih, pasti kita akan bergaul dengan orang-orang bodoh dan ahli maksiat. Kedekatan dengan para ulama dan orang shalih akan memotivasi anak untuk cinta pada kebaikan, amal shalih, dan lingkungan yang bagus. Siapa yang berkumpul dengan orang-orang baik atau hidup di lingkungan yang baik, akan tertular kebaikannya. Dan siapa yang berkumpul dengan orang-orang buruk atau hidup di lingkungan yang buruk, akan pula terkena getah keburukannya.</p>
<p>Wahai anak shalih yang mendambakan surga, jangan biarkan dirimu bergaul dengan orang buruk berhati serigala, orang munafik, orang fasik dan ahli bid’ah perusak agama. Ingat, orang yang baik akan dikumpulkan bersama orang baik dan orang yang buruk akan berkumpul dengan orang yang buruk. Dan pada Hari Kiamat kelak, seseorang dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.</p>
<p>Sumber: jilbab.or.id [Jazahumullahu khairan]</p>
<p><em><strong> </strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudahtahukahanda.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudahtahukahanda.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudahtahukahanda.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudahtahukahanda.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=152&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/03/01/untukku-anak-shalih-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/df6032fe4c23df8a981913582c37444c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatheema</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parentingmuslim.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Selebihnya...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untukmu Anak Shalih (1)</title>
		<link>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/02/28/untukmu-anak-shalih-1/</link>
		<comments>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/02/28/untukmu-anak-shalih-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 16:30:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Fathimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiyatul aulad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudahtahukahanda.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc hafidzahullah Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua harus pandai-pandai memilih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=148&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc <em>hafidzahullah</em></strong><em><br />
</em></p>
<p>Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua harus pandai-pandai memilih lembaga pendidikan yang sejalan dengan syariat Islam.</p>
<p>Banyak orang awam dan berkantong tebal salah dalam memilih lembaga pendidikan. Alih-alih mempertimbangkan kebersihan akidah dan keluhuran akhlak bagi anak-anaknya, mereka hanya berorientasi pada keberhasilan di dunia. Alhasil, mereka hanya memilih sekolah favorit yang ternama dan bergengsi walaupun harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sekolah mahal dipakai sebagai alat pengangkat prestise orangtua, sekadar alat untuk menunjukkan bahwa orangtua mampu menyekolahkan anak di sekolah pilihan orang kaya. Bila sudah begini, janganlah terlalu berharap memiliki anak shalih.</p>
<p>Berikut beberapa contoh kesalahan orang tua dalam memberikan pendidikan buat anak-anaknya:<span id="more-148"></span></p>
<p><strong>1. Salah Tujuan</strong><br />
Seringkali orangtua menyekolahkan anak karena malu pada tetangga bila anaknya bodoh atau kalah kecerdasannya, atau khawatir kelak anaknya tidak mendapat pekerjaaan yang layak. Atau, si orangtua hanya ingin agar anaknya nanti menjadi pengawai negeri dan pejabat tinggi yang banyak harta dan hidup mapan. Padahal, orangtua haruslah berangkat dari niat menjalankan<br />
perintah Allah, yaitu memenuhi kewajiban hamba sebagai orangtua yang memang dituntut untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang bertakwa dan shalih, yang menjadi simpanan abadi di akhirat kelak.</p>
<p>Sayangnya, saat ini justru sekolah yang melulu berorientasi pada keberhasilan dunialah yang menjadi prioritas banyak orang awam. Mereka tak memperhatikan apakah terjadi ikhtilat atau tidak. Sehingga kemaksiatan mudah tercipta di sekolah tersebut, karena landasan agama dicampakkan, sementara dunia menjadi tujuan. Lihatlah, di sekolah-sekolah yang ikhtilat,<br />
banyak terjadi kasus zina melalui budaya pacaran, pergaulan bebas, dan asmara buta sehingga kekejian merebak dan perzinahan merajalela.</p>
<p><strong>2. Salah Sekolahan</strong><br />
Bisa jadi orangtua sudah benar dalam niat, tapi karena ilmu agamanya yang minim, ia salah mencarikan lembaga pendidikan bagi anak-anaknya. Misalnya, ia ingin anaknya paham ilmu agama, maka ia main masukkan saja anaknya ke sekolah agama seperti madrasah atau pesantren, tanpa peduli apakah pesantren itu penuh bid’ah atau tidak, dan apakah akidah dan akhlak para santri benar-benar terkontrol.</p>
<p>Harus diakui, saat ini masih ada sekolah Islam yang di situ bercampur-baur antara pelajar laki-laki dengan perempuan, atau kurang memperhatikan sistem pengajarannya, sehingga bercampur antara pelajaran yang syar’i dan bid’ah, bahkan antara ajaran Islam dan ajaran kafir. Alhasil, pemahaman dan efek buruklah yang diterima sang anak. Kelak, ia pun secara sistematis akan tumbuh menjadi generasi dengan pemahaman dan pengamalan Islam yang<br />
menyimpang dari syariat Islam.</p>
<p><strong>3. Salah Teladan</strong><br />
Sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas, keteladan memiliki pengaruh kuat dalam proses pendidikan anak. Perilaku orangtua maupun guru berdampak kuat bagi pembentukan kematangan pribadi sang anak. Teladan yang salah akan membuat anak terdidik di atas kebiasaan buruk dan perilaku negatif. Karena itu, orangtua harus memilih pendidik yang menjunjung tinggi<br />
nilai-nilai akidah dan moral, serta memiliki kelebihan ilmu dan amal dibanding murid-muridnya.</p>
<p><strong>4. Salah Metode Pendidikan</strong><br />
Bisa saja pelajaran yang diberikan kepada sang anak sudah baik, tapi cara penyampaiannya yang tidak tepat, sehingga tujuan dan target pendidikan tidak tercapai, atau anak didik menjadi gagal. Mendisiplinkan anak-anak dengan sanksi kekerasan fisik, misalnya, hanya membentuk anak berwatak keras. Sebaliknya, memberi toleransi yang berlebihan akan membuat anak semakin manja. Anak yang selalu diluluskan permintaan materinya akan tumbuh menjadi anak yang cinta dunia, sementara anak yang biasa diabaikan permintaannya, bisa punya kebiasaan mencuri. Di sekolah, anak hanya dicecar dengan hafalan, tapi kurang diajak memahami suatu permasalahan.</p>
<p><strong>5. Motivasi yang Kurang Tepat</strong><br />
Kesalahan orangtua atau guru dalam memberi motivasi kepada anak didiknya bisa memberi dampak yang kurang baik. Misalnya, mendoromg anak berprestasi dengan hadiah yang menggiurkan, atau memotivasi anak berprestasi agar tidak tersaingi oleh teman-temannya, atau memotivasi anak agar bangga dengan prestasi yang telah dicapainya. Motivasi yang demikian itu akan merusak watak dan pribadi anak, karena anak terdorong bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu bukan karena Allah, melainkan karena ingin berprestasi dan mendapat hadiah yang menggiurkan.<br />
Parahnya lagi, hanya untuk mengejar hadiah yang dijanjikan, si anak bisa saja menghalalkan segala cara, dengan mencontek atau berbuat curang lainnya, yang penting hadiah didapat.</p>
<p>Alhasil, bila dia tidak bisa berprestasi, maka dia akan menjadi orang yang frustasi dan malas belajar, sedangkan pada anak yang didorong agar tidak tersaingi oleh teman-temannya akan timbul sifat angkuh, sombong dan egois. Dan anak yang dimotivasi agar bangga dengan prestasi yang dicapainya, tumbuh menjadi anak yang tidak pandai bersyukur kepada Allah; ia hanya bersemangat menuntut ilmu, tapi kehilangan kendali bila gagal.</p>
<p><strong>6.  Membatasi Kreativitas Anak</strong><br />
Ada sebagian orangtua yang membatasi, memaksa dan selalu menentukan kreativitas anak. Ini akan mengekang bakat anak, membuat anak kurang percaya diri, tidak pandai bergaul, dan cenderung memisahkan diri dari teman-temannya. Seharusnya orangtua mengarahkan, membimbing, mendorong dan memberi fasilitas agar anak mengembangkan kreativitasnya sepanjang kreativitas itu tidak melanggar syariat, tidak merugikan dan mengganggu orang lain, dan bermanfaat untuk diri maupun agamanya. Anak yang merasa didukung kreativitasnya akan tumbuh dengan kepala yang penuh ide cemerlang dan menjadi orang yang bertanggung jawab, sekaligus menjadi anak yang bangga dengan orang-tuanya.</p>
<p><strong>7.  Membatasi Pergaulan</strong><br />
Kadang, karena tidak ingin anak terpengaruh oleh perilaku buruk teman bergaulnya, orangtua bertindak sangat protektif terhadap anaknya. Bahkan, anak tak boleh “nimbrung” jika orang tuanya sedang menerima tamu. Atau, anak hanya diperbolehkan bergaul dengan teman-teman tertentu yang belum tentu shalih, tapi justru dilarang mendekati temannya yang shalih, paham As-Sunnah dan rajin beribadah.</p>
<p>Sikap orangtua seperti di atas membuat anak menjadi pemalu dan tidak pandai bergaul, atau akan membuat anak mudah merendahkan orang lain yang dianggap tidak selevel dengannya.</p>
<p>Orangtua bijaksana akan mengawasi pergaulan anak-anaknya, tanpa terlalu membatasi tapi juga tidak membiarkan anak bergaul bebas. Orangtua harus selalu mengingatkan dan memantau agar anak bergaul dengan orang-orang shalih, yang paham As-Sunnah, rajin beribadah dan berakhlak mulia serta teman-teman yang bisa memotivasinya menjadi orang yang bermanfaat untuk diri, agama, orang tua dan orang di sekitarnya. <em>Bersambung insyaallah</em>.</p>
<p>Sumber: jilbab.or.id [jazahumullahu khairan]</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudahtahukahanda.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudahtahukahanda.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudahtahukahanda.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudahtahukahanda.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=148&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/02/28/untukmu-anak-shalih-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/df6032fe4c23df8a981913582c37444c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatheema</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ujian Hakiki</title>
		<link>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/02/19/ujian-hakiki/</link>
		<comments>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/02/19/ujian-hakiki/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 16:42:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Fathimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatunnufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudahtahukahanda.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Firanda Andirja Abidin hafidzahullah Sebagian orang tatkala berada dihadapan orang lain maka ia mampu dengan mudahnya meninggalkan kemaksiatan, bahkan ia mampu untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ia mampu melaksanakan itu semua meskipun ia berada di tengah-tengah kondisi masyarakat yang tenggelam dalam lautan kemaksiatan. Ini adalah suatu kemuliaan karena ia bisa menghadapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=144&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Ustadz Firanda Andirja Abidin <em>hafidzahullah</em></strong><em><br />
</em><br />
Sebagian orang tatkala berada dihadapan orang lain maka ia mampu dengan mudahnya meninggalkan kemaksiatan, bahkan ia mampu untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ia mampu melaksanakan itu semua meskipun ia berada di tengah-tengah kondisi masyarakat yang tenggelam dalam lautan kemaksiatan. Ini adalah suatu kemuliaan karena ia bisa menghadapi ujian dengan baik sehingga terhindar dari kemaksiatan. Namun ingat sesungguhnya bukan ini ujian yang sebenarnya.</p>
<p>Allah telah melarang para hambanya untuk bermaksiat kepadaNya baik secara terang-terangan atau tatkala ia bersendirian tatkala tidak ada orang lain yang melihatnya. Seseorang yang mencegah dirinya dari melakukan kemaksiatan dihadapan khalayak tentunya berbeda dengan orang yang mencegah dirinya dari melakukan kemaksiatan tatkala ia bersendirian. Sesungguhnya ujian yang hakiki adalah ujian yang dihadapi seorang hamba tatkala ia sedang bersendirian kemudian tersedia dihadapannya sarana dan prasarana serta kemudahan baginya untuk melakukan kemaksiatan, apakah ia mampu mencegah dirinya dari kemaksiatan tersebut??. Inilah ujian yang hakiki, ujian yang sangat berat, beruntunglah bagi mereka yang bisa selamat dari ujian ini.</p>
<p>Ketahuliah…, orang yang mampu menghindarkan dirinya dari kemaksiatan tatkala dihadapan orang lain namun ia terjerumus dalam kemaksiatan tatkala ia sedang bersendirian merupakan orang yang tercela.<span id="more-144"></span></p>
<p>Rasulullah salallah wa&#8217;alaihi wasallam pernah bersabda</p>
<p style="text-align:right;"><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
لألفين أقواما من أمتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة فيجعلها الله هباء منثورا فقالوا يا رسول الله صفهم لنا لكي لا نكون منهم ونحن لا نعلم فقال أما إنهم من إخوانكم ولكنهم أقوام إذا خلوا بمحارم الله انتهكوها</span></strong></p>
<p>“Sungguh aku mengetahui sebuah kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan yang banyak seperti  gunung. Lalu Allah Ta’ala menjadikanya seperti debu yang berterbangan”. Kemudian mereka (para sahabat) bertanya: “Khabarkanlah kepada kami tentang ciri-ciri mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak menydarainya”. Nabi shalallahu’alaihi wasallam menjawab:”Adapun mereka sendiri saudara-saudara kalian akan tetapi mereka adalah kaum yang melangar apa yang diharamkan Allah tatkala bersendirian”[1]</p>
<p>Allah telah menguji orang-orang yahudi dengan ikan,</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
</span><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA">وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعاً وَيَوْمَ لا يَسْبِتُونَ لا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (لأعراف:163</span></strong></strong></p>
<p>&#8220;Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik&#8221;. (QS. 7:163)</p>
<p>Lihatlah…Allah memudahkan bagi mereka sebab-sebab untuk melakukan kemaksiatan. Namun mereka (orang-orang Yahudi) tersebut tidak sabar dengan ujian Allah padahal mereka yakin bahwa Allah mengawasi gerak-gerik mereka, oleh karena itu mereka tidak melanggar perintah Allah secara langsung tetapi mereka melakukan hilah yang akhirnya Allah merubah mereka menjadi kera-kera yang hina.</p>
<p>Allahpun telah menguji para sahabat Nabi shalallahu’alaihi wasallam, Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
</span><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ مِنَ الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ (المائدة:94</span></strong></strong></strong></p>
<p>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barangsiapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih&#8221; (Al-Maidah : 94)</p>
<p>Dari Muqotil bin Hayyan, bahwasanya ayat ini turun tatkala umroh Hudaibiyah, tatkala itu muncul banyak sekali zebra, burung, dan hewan-hewan buruan yang lain di tengah perjalanan para sahabat (yang sedang dalam keadaan berihram umroh), mereka tidak pernah menjumpai yang seperti ini sebelumnya, namun Allah melarang mereka untuk berburu hewan-hewan tersebut.[2] Sampai-sampai saking terlalu jinaknya hewan-hewan tersebut maka mereka bisa mengambil langsung hewan-hewan buruan yang kecil dengan tangan-tangan mereka, adapun hewan-hewan buruan yang besar maka mereka bisa dengan mudah menombaknya[3]</p>
<p>Dalam ayat ini <strong> لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ</strong> Allah menta&#8217;kid (menekankan) dengan sumpah[4] untuk menunjukan bahwa apa yang sedang mereka hadapi berupa jinaknya hewan-hewan buruan, tidaklah Allah menjadikan hewan-hewan tersebut jinak kecuali karena untuk menguji mereka.[5]</p>
<p>Adapun nakiroh pada kalimat <strong> بِشَيْءٍ </strong> menunjukan bahwa cobaan yang Allah turunkan pada mereka bukanlah cobaan yang sangat mengerikan yang menyebabkan terbunuhnya nyawa dan rusaknya harta benda, namun cobaan yang Allah berikan kepada para sahabat pada ayat ini adalah semisal cobaan yang Allah berikan kepada penduduk negeri Ailah (orang-orang yahudi) berupa ikan-ikan yang banyak mengapung di permukaan laut namun Allah melarang mereka untuk menangkapnya[6]. Dan faedah dari cobaan yang tergolong &#8220;ringan&#8221; ini adalah untuk mengingatkan mereka bahwa barangsiapa yang tidak bisa tegar menghadapi seperti cobaan ini maka bagaimana ia bisa tegar jika menghadapi cobaan yang sangat berat. Oleh karena itu huruf<strong> مِنَ </strong> dalam ayat ini <strong> مِنَ الصَّيْدِ </strong> ini jelas adalah bayaniah dan bukan tab&#8217;idhiyah.[7]</p>
<p>Jika seorang hamba merasakan bahwa dirinya dimudahkan untuk melakukan kemaksiatan, jalan-jalan menuju kemaksiatan terbuka lapang baginya maka ketahuilah bahwa ia sedang diuji oleh Allah…ingatlah bahwa Allah yang sedang mengujinya juga sedang mengawasinya, maka takutlah ia kepada Allah. Inilah ujian yang hakiki, dan Allah akan memberikan ganjaran yang besar baginya karena kekuatan imannya. Barangsiapa yang meninggalkan kemaksiatan padahal sangat mudah baginya untuk melakukannya maka ketahuilah bahwa itu adalah kabar gembira baginya karena hal itu merupakan indikasi imannya yang kuat. Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dalam keadaan bersendirian maka ketahuliah bahwa imannya ternyata lemah, dan hendaknya ia takut kepada adzab yang Allah janjikan kepada orang-orang yang melanggar perintahNya.</p>
<p>Oleh karena itu di akhir ayat Allah berfirman <strong> لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ </strong>, inilah hikmah dari ujian yang Allah berikan kepada para sahabat yang sebagian mereka bisa saja mengambil hewan-hewan buruan tersebut dengan mudahnya baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Dengan ujian ini akan nampak siapakah dari hamba-hamba Allah yang takut dan bertakwa kepada Allah baik secara terang-terangan maupun tatkala bersendirian.</p>
<p>Hal ini sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
</span><strong><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA">إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ| الملك:12</span></strong></strong></strong></strong></p>
<p>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar&#8221;. (QS. 67:12)[8]</p>
<p>Ujian yang diberikan oleh Allah agar terbedakan hamba Allah yang karena keimanannya yang kuat maka takut kepada adzab Allah di akhirat yang meyakini bahwasanya Allah senantiasa mengawasinya meskipun ia tidak melihatNya, agar terbedakan dari hamba yang lemah imannya sehingga berani melanggar perintah Allah…[9], sehingga Allah memberinya ganjaran yang besar…adapun menampakan rasa takut kepada Allah dihadapan khalayak maka bisa jadi ia melakukannya bukan karena takut kepada Allah maka ia tidak mendapatkan ganjaran…[10].</p>
<p>[1] HR Ibnu Majah II/1418 no 4245 dan At-Thobroni dalam Al-Mu’jam Ash-Shogir I/396 no 662 (dan ini adalah lafalnya) dan Al-Mu’jam Al-Awshoth V/46 no 4632. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih Sunan Ibnu Majah, dan As-Shahihah II/32 no 505</p>
<p>[2] Ad-Dur Al-Mantsur, karya As-Suyuthi (3/185)</p>
<p>[3] Tafsir Ibnu Katsir (2/98)</p>
<p>[4] Karena huruf lam dalam ayat ini adalh Al-Lam Al-Waqi&#8217;ah lijawabil qosam</p>
<p>[5] Tafsir Abi As-Sa&#8217;ud (3/78)</p>
<p>[6] Lihat juga Fathul Qodir (2/77), At-Tafsir Al-Kabir (12/71)</p>
<p>[7] Tafsir Abi As-Sa&#8217;ud (3/78), Tafsir As-Sa&#8217;di (1/244), karena jika kita mengatakan bahwa مِن dalam ayat ini adalah tab&#8217;idhyah (sebagaimana hal ini adalah pendapat yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (2/98)) maka sesuatu yang ringan yang difahami dari kalimat <strong>بِشَيْءٍ </strong>bukanlah jika dibandingkan dengan cobaan-cobaan yang berat namun jika dibandingkan dengan seluruh hewan.</p>
<p>[8] Tafsir Ibnu Katsir (2/99)</p>
<p>[9] Tafsir Abi As-Saud (3/78)</p>
<p>[10] Tafsir As-Sa&#8217;di (1/244)</p>
<p>Sumber: http://www.facebook.com/notes/firanda-andirja/ujian-hakiki/307878560324 dengan sedikit tambahan. [Jazahumullah Khairan]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudahtahukahanda.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudahtahukahanda.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudahtahukahanda.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudahtahukahanda.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=144&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/02/19/ujian-hakiki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/df6032fe4c23df8a981913582c37444c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatheema</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seorang Ayah Melarang Anak Gadisnya Memakai Hijab, Apa Hukumnya?</title>
		<link>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/02/16/seorang-ayah-melarang-anak-gadisnya-memakai-hijab-apa-hukumnya/</link>
		<comments>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/02/16/seorang-ayah-melarang-anak-gadisnya-memakai-hijab-apa-hukumnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 09:32:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Fathimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudahtahukahanda.wordpress.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Fatwa al Lajnah ad Daimah Lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ Pertanyaan ke-6 dari fatwa No. 5953 Pertanyaan: Seorang wanita memakai hijab dihadapan laki-laki yang bukan mahramnya kemudian ayahnya mengetahui tentang hal ini dan melarangnya. Bagaimanakah hukumnya? Jawab: Jika seandainya memang demikian kenyataannya, maka larangan ayahnya tersebut tidak dapat membahayakan si anak bahkan tidak boleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=139&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Fatwa al Lajnah ad Daimah Lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wal Ifta’</strong></p>
<p>Pertanyaan ke-6 dari fatwa No. 5953</p>
<p>Pertanyaan: Seorang wanita memakai hijab dihadapan laki-laki yang bukan mahramnya kemudian ayahnya mengetahui tentang hal ini dan melarangnya. Bagaimanakah hukumnya?</p>
<p>Jawab: Jika seandainya memang demikian kenyataannya, maka larangan ayahnya tersebut tidak dapat membahayakan si anak bahkan tidak boleh bagi seorang ayah melarang anaknya memakai hijab. Karena dia melakkukannya untuk menaati Allah sementara meninggalkan hijab termasuk perbutan maksiat. Dan tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk bermaksiat kepada sang Kholiq. Ayah tersebut telah berdosa karena perbuatannya, semoga Allah memberinya petunjuk.<span id="more-139"></span></p>
<p>Al Lajnah ad Daimah Lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wal Ifta’</p>
<p>Ketua // wakil ketua al Lajnah //Anggota// Anggota//</p>
<p>‘Abdul ‘aziz Ibnu Abdullah Ibnu Baaz// ‘Abdurrazzaq ‘Afifi//Abdullah Bin Ghadyan// Abdullah Ibn Qu’ud//</p>
<p><strong>Ketaatan Itu Hanya Pada Perkara Yang Ma’ruf</strong></p>
<p>Pertanyaan ke-8 dari fatwa no. 3552</p>
<p>Pertanyaan: Manakah yang lebih utama bagi seorang mukmin, melakukan perbuatan menyelisihi syariat karena ridho pemimpin dan manusia ataukah mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam?</p>
<p>Jawab: Wajib bagi seorang mukmin meninggalkan semua perkara-perkara yang menyelisihi syariat dan wajib atasnya mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shalallahu’alihiwasallam. Hal ini merupakan perkara yang disepakati bahwasanya tidak ada ketaatan kepada imam atau yang lainnya untuk bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu’alaihi wasallam:</p>
<p style="text-align:right;"><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
إنما الطاعة في المعروف[1</span></strong></p>
<p>“Ketaatan itu hanya pada perkara yang ma’ruf”</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"> </span><strong><strong><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;font-family:traditional arabic;direction:rtl;" lang="AR-SA"><br />
لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق[2</span></strong></strong></strong></p>
<p>“Tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk bermaksiat kepada sang Khaliq”</p>
<p>Wa billahittaufiq wa shallahu’ala nabiyyina Mmuhammad wa alihi washahbihi wasallam</p>
<p>Ketua // wakil ketua al Lajnah //Anggota// Anggota//</p>
<p>‘Abdul ‘aziz Ibnu Abdullah Ibnu Baaz// ‘Abdurrazzaq ‘Afifi//Abdullah Bin Ghudyan// Abdullah Ibn Qu’ud//</p>
<p>[1] HR. Bukhari [Fathul Bari] No. (4340,7145,7257), Muslim bi Syarh an Nawawi (12/226), Abu Daud No. 2625 dan an Nasai [al Mujtaba] (7/159).</p>
<p>[2] Dikeluarkan oleh al Qadha’I dalam Musnadnya No. 873, Abdurrazzaq No. 20700 dan at Thabrani [al Kubra] (3/3159,3160) dan (18/324, 367,381,385,407,432) sampai (438, 570, 571).</p>
<p>Sumber: <em>Fatawa al Lajnah ad Daimah Lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wal Ifta’</em>, Maktabah Asy Syamilah</p>
<p style="text-align:right;">
<div style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;direction:rtl;" lang="AR-SA">
<p><strong><strong><strong>السؤال السادس من الفتوى رقم (5953):</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>س6: امرأة لها أب علم بأنها تحجبت عن الرجال فقطعها، فما الحكم في ذلك؟</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>ج6: كان الواقع ما ذكر فلا يضرها قطع والدها لها، بل لا يجوز له ذلك؛ لأن عملها طاعة لله، وترك الحجاب معصية، فلا طاعة لمخلوق في معصية الخالق، وهو آثم فيما فعل هداه الله.</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد ، وآله وصحبه وسلم.</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>عضو // عضو // نائب رئيس اللجنة // الرئيس //</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>عبد الله بن قعود // عبد الله بن غديان // عبد الرزاق عفيفي // عبد العزيز بن عبد الله بن باز //</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>السؤال الثامن من الفتوى رقم (3552):</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>س8: هل المؤمن يعمل المخالفات إرضاء للإمام وللناس أفضل أم لاتباع كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم؟</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>ج8: يجب على المؤمن ترك هذه المخالفات، ويجب عليه أن يتبع كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم، وهذا أمر معلوم وليس له طاعة الإمام ولا غيره في معاصي الله عز وجل؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم: « إنما الطاعة في المعروف » (1) وقوله عليه الصلاة والسلام: « لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق » (2) .</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد ، وآله وصحبه وسلم.</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>عضو // عضو // نائب رئيس اللجنة // الرئيس //</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>عبد الله بن قعود // عبد الله بن غديان // عبد الرزاق عفيفي // عبد العزيز بن عبد الله بن باز //</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>_________</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>(1) البخاري [فتح الباري] رقم (4340، 7145، 7257)، و [مسلم بشرح النووي] (12 / 226)، وأبو داود برقم (2625)، والنسائي في [المجتبى] (7 / 159).</strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong><strong>(2) (1) أخرجه القضاعي في مسنده رقم (873)، وأخرجه عبد الرزاق برقم (20700)، والطبراني في [الكبير] (3 / 3159، 3160) و (18 / 324، 367، 381، 385، 407، 432) إلى (438، 570، 571).</strong></strong></strong></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudahtahukahanda.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudahtahukahanda.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudahtahukahanda.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudahtahukahanda.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudahtahukahanda.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudahtahukahanda.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudahtahukahanda.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudahtahukahanda.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudahtahukahanda.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudahtahukahanda.wordpress.com&amp;blog=8437128&amp;post=139&amp;subd=sudahtahukahanda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2010/02/16/seorang-ayah-melarang-anak-gadisnya-memakai-hijab-apa-hukumnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/df6032fe4c23df8a981913582c37444c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatheema</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
